Pulang Kampung
Terbit di Surabaya Post , 10 Juni 2008
Oleh: Gendhotwukir
Aku pulang kampung. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku mengendarai mobil pribadiku. Orang-orang sekampungku mungkin akan terheran-heran melihatku pulang kampung dengan menyetir mobil. Tapi, bukan kebanggaan yang ada dalam hatiku. Aku hanya ingin merasa nyaman di jalanan, tidak termakan terik dan terguyur hujan pada musim yang terus sulit diramalkan ini.
Jalan menuju kampungku sudah beraspal. Hatiku semakin berbunga-bunga saat melihat tiang-tiang listrik menjulang tinggi dengan kabel-kabel yang bergelayutan, pertanda listrik sudah masuk kampungku. Tahun yang lalu belum ada listrik, jalan masih belum beraspal dan rumah-rumah penduduk masih didominasi bambu. Aku merasa bangga dengan perkembangan kampungku.
Aku menghentikan laju mobilku di depan gereja paroki dan pastoran. Tak ada yang berubah dengan bentuk bangunannya. Yang berubah hanyalah wajah bangunannya yang tampak lebih suram. Aku termenung. Kenangan masa kecil melintas dalam ingatanku; saat aku jadi misdinar; saat pulang sekolah berteduh karena hujan yang lebat.
Aku turun dari mobil dan berdiri memandangi bangunan tua yang sudah tampak seperti kakek-kakek pikun itu. Dinding, jendela dan daun pintu tampak muram tak terawat. Aku merasa prihatin dengan kondisi bangunan gereja parokiku.
Aku tidak berlama-lama berdiri di halaman gereja. Anak-anak kecil berlarian membuntuti mobilku sambil berteriak-teriak girang, karena memang jarang ada mobil masuk kampung. Beberapa orang kampung yang melihatku menganggukkan kepala dan tersenyum ramah.
Sehabis mandi sore aku duduk di beranda seorang diri sambil menikmati sebatang rokok gudang garam. Samar-samar kudengar bunyi lonceng gereja paroki dari kejauhan. Aku heran kenapa Hari Jum`at begini lonceng gereja dibunyikan. Aku bergegas bertanya pada ibuku yang sedang merapikan dan memasukkan baju-bajuku ke dalam almari kamarku. Lonceng gereja dibunyikan karena di gereja sore ini ada doa Jumát Kliwon.
Aku kembali duduk di beranda dan kini ditemani secangkir kopi di tanganku. Lonceng gereja masih terdengar. Pikiranku lantas melayang pada pemandangan bangunan gereja yang siang tadi aku lihat. Aku tiba-tiba tergerak untuk mengungkapkan keprihatinanku pada pastur paroki.
“Selamat sore, Romo,“ sapaku ramah pada pastur tua keturunan Belanda yang tampak heran dengan kedatanganku.
“Ah, kalau tidak salah, Romo Anton? Ya, Romo Anton. Selamat sore, Romo Anton. Mari masuk. Lama tidak berjumpa. Gimana kabar, Romo?” tanyanya ramah.
“Baik, Romo,” jawabku singkat.
“Ah, saya senang dengar jawabmu itu. Dalam rangka apa Romo pulang ke kampung halaman? Bapak ibu sehat-sehat saja kan?“
“Ya, berkat Tuhan. Orang tua saya sehat-sehat saja. Saya pulang kampung karena sedang pingin libur dan sekaligus ingin menjenguk orang tua dan saudara-saudara saya. Tugas-tugas di paroki saya limpahkan pada pastur yang baru saja ditahbiskan bulan lalu.“
Kami bercakap-cakap hingga larut malam dengan ditemani beberapa botol Bir Bintang kesukaan Romo Wilhelm. Ia sudah lebih dari 40 tahun bertugas di Indonesia, tapi Bahasa Indonesianya belum bagus juga. Malam itu saya dengan bersemangat juga menceritakan parokiku yang baru saja membangun gereja yang megah. Romo Wilhelm hanya mengangguk-angguk saja karena ternyata dia sudah mengetahuinya. Aku merasa bangga.
Kami sepertinya sudah kehabisan bahan pembicaraan. Kami berdua terdiam. Aku melayangkan pandanganku ke sudut-sudut ruang tamu pastoran. Kondisi bangunan yang mengerikan, pikirku yang sudah terbiasa hidup sebagai pastor kota metropolitan. Dinding muram. Bahkan, di beberapa sudut ada bagian dinding yang sudah mulai pecah-pecah termakan usia.
“Maaf, Romo Wilhelm. Kenapa Romo tidak segera merenovasi bangunan pastoran dan gereja paroki ini. Saya lihat kondisi bangunannya sudah parah dan memang sudah saatnya diperbaiki atau dibongkar diganti dengan bangunan yang baru?” tanyaku spontan.
“Ya. Kapan-kapan saja,” jawabnya singkat dan sepertinya tidak begitu menghiraukan kegelisahanku.
“Ya. Tapi bagaimana umat bisa berdoa dengan nyaman dengan kondisi bangunan seperti itu?”
Romo Wilhelm menghela nafas panjang dan dengan tegas berkata, “Saya rasa, Romo Anton ini sudah kabur dengan tugas utama seorang romo yaitu pelayanan sakramen, bukan orientasi pembangunan lahiriah. Pembangunan batiniah iman umat dan peneguhan serta pendampingan umat adalah yang utama.”
Aku tersentak. Sepertinya ada seribu peluru yang menembusi tubuh dan dadaku. Aku menghela nafas panjang beberapa kali tanpa menimbulkan suara yang mencurigakan. Aku merasa tersinggung dengan kata-kata Romo Wilhelm. Aku mencoba tetapn tenang dan mengendalikan diri agar tidak tampak terlalu gusar. Aku meminum kembali bir yang masih tersisa di gelasku.
Waktu terasa kian larut. Aku segera memutuskan untuk pulang ke rumah . Aku pulang dengan hati yang masih panas. Aku langsung tidur. Pagi harinya perasaan tersinggung masih berkecamuk di hati dan pikiranku. Aku mencoba untuk tenang dan membiarkan semuanya berlalu. Tapi semakin aku berusaha ingin melupakan kata-kata Romo Wilhelm, aku merasa sepertinya kata-kata itu terus mendengung di dalam kepalaku.
Pada hari yang lain, aku bertanya pada orang tuaku mengapa sampai saat ini bangunan gereja paroki dan pastoran itu tidak diperbaiki. Kedua orang tuaku hanya diam. Sepertinya mereka menyimpan sebuah rahasia besar. Setelah aku desak, mereka akhirnya mau mengaku juga.
“Romo Wilhelm itu orangnya saleh dan bijaksana. Saya yakin kalau hanya ingin membangun gereja yang besar dan megah, bahkan mirip istana pun, saya kira mudah bagi beliau. Tapi Romo Wilhelm tidak seperti itu orangnya. Ia lebih mengutamakan kesaksian iman yang sungguh-sungguh mengakar pada Yesus Kristus dan itu telah ditampakkannya dalam sikap dan tentu saja dalam perbuatan konkret. Bangunan gereja dan pasturan itu masih layak huni, Bangunan itu kami bangun dengan swadaya,“ ungkap bapakku tegas. Aku tidak banyak komentar.
Aku kembali ke kota dan sekali lagi melewati gereja parokiku. Melihat bangunan tua itu, masih saja hatiku panas teringat kata-kata Romo Wilhelm. Sepanjang perjalanan aku bertanya dalam hatiku mengapa aku sebegitu tersinggung dengan kata-kata Romo Wilhelm.
Selama ini aku begitu antusias membangun parokiku secara lahiriah saja, tanpa memperhatikan realitas hidup di sekitar. Kami mendirikan bangunan megah di tengah-tengah kampung nelayan yang kumuh dan tetap miskin. Berbeda dengan Romo Wilhelm yang selalu mendampingi dan meneguhkan umat sekampungku yang rata-rata memang miskin, aku terlalu dangkal melihat tugas pelayanan sakramen sehingga menjadi romo saksemen, bangga kalau bisa membangun gereja dengan megah dan akan selalu dikenang umat.
Komunitas Merapi, 2008