Sajak-Sajak Gendhotwukir
Koran Sore Surabaya Post, Minggu 13 April 2008
Ke Barat Kepada Bunga
Pak, mari kita pergi ke barat yang adalah timur juga. Ke barat mengejar matahari terbenam. Tetapi, janganlah sampai ke ujung barat karena di perempatan kita harus ke kiri memetik setangkai bunga. Setangkai Bunga Ridna. Bunga yang kata orang-orang seperti datang dari korea. Sayang, bunga korea itu mulai layu karena ulah orang dungu sepertiku.
Pak sebelum sungguh-sungguh layu, biarkan aku membawakan sepoi dan derai gerimis karena bunga itu suka titik-titik gerimis. Ia pun suka membangun gerimis di keresahannya yang terbenam seiring riuh kata-kata yang memburat dari ujung bibirnya. Sudah semestinya kita berlomba dengan badai yang akan memporak-porandakan. Tapi, badai itu hanya rajutan keresahan yang dibangun dari orang-orang dungu sepertiku. Dungu tahun baru yang menolak setuju berjejalan di sepanjang jembatan code dan menolak menerawang liuk-liuk kereta api yang berkejaran dengan pesta kembang api.
Entah mengapa harus secepat ini kita buru-buru ke barat. Mungkin karena orang-orang dungu telah menjadi kelu pada seribu tombak yang siap menerkam dengan ujung jari-jarinya. Juga kilau berkelebatan di dalam gelap dan mimpi menjelang pagi seiring galau yang kian memanjang.
Komunitas Merapi di ujung sore, 030108
Aurora Kemarahan
Masuklah, ridna! Di luar orang-orang mulai mengigau dan tak pedulikan genangan air matamu yang telah membibir itu. Selama angin masih membelaimu. Kenangkanlah bahwa kita hanya seonggok sampah yang tak akan pernah mengerti makna perjalanan ini. Biarlah orang-orang menebar badai lalu menguncinya di daun pintu. Amarah yang kau pendam tak akan menebarkan segerombolan penari dari selatan. Deburnya akan tetap mendarat di kening dan pada kata-kata yang bercabang seperti lidah ular.
Selayak musim yang terus berganti, kata-kata akan berubah seiring baju yang berganti dalam hitungan waktu dan hari. Mengertilah bahwa setiap kali ada titik hitam pada lembaran kain kafan yang putih itu. Kenangkanlah perjalanan ke depan. Setiap jejak selalu tertinggal di belakang punggung. Harapan selalu datang dan terpenuhi, atau kadang pergi juga bersama kawanan bangau menuju matahari terbenam.
Seusai keinginan yang tergapai, ada langkah ke depan. Setiap jejak yang tertinggal tak jarang meninggalkan amarah dan dendam. Tapi, masuklah segera ke dalam! Di luar hanya ada gempuran amarah. Duduklah di tungku ini dan bakarlah dendam dan amarah itu di baranya. Setiap kebusukan telah mendapatkan tempatnya dalam genangan angkara murka, entah kapan datangnya. Setiap kebohongan yang terungkap akan didatangi seribu pedang yang akan menghujamnya dan membawanya sampai ke kematian. Terkutuk sampai keturunanya. Duduklah segera di sisiku, kenangkan timangan ibumu yang tak akan pernah kau gadaikan itu.
2007
Partitur Hujan
Mak, jika aku pulang tak usah kau sibuk memandikanku. Aku sudah mandi adagio hujan, mandi andante dari bau tanah sehabis hujan dan mandi pilar-pilar requiem senyum di bawah pelepah daun pisang. Aku ini memang rajutan air hujan, yang harus segera lesap ke dasar bumi dan setelahnya bersatu dengan samadi-mengunci diri.
2007
Hutan
hutanhutan menjadi tanah lapang dan memudar dalam derai kawanan para pecundang. semenjak bau rerumputan kandas dalam balaibalai kelopak bunga kamboja. bibirnya mengatup. daundaun menjulai sibuk mencari ketiaknya. gerah yang terus mengalir di pematang batang-batang bergeriap.
entah mengapa sepasukan lentera berbenah diri hendak membasmi pucupucuk pinus yang telah berumah di atas tanah-tanah yang kering keronta.
2007