NB: Sajak ini muncul di situs Rumah Kiri dengan judul Sejak Si Halla Suka Berternak Ayam, padahal Judul aslinya Sejak Allah Suka Berternak Ayam. Saya tidak mengerti alasan editor mengganti Allah dengan Si Halla. Berikut sajak aslinya.
Allah suka berternak karena ingin santapan yang enak dialah satu-satunya peternak di surga yang tak mengenal krisis kepercayaan pelanggan
pagi ini dia sedang sibuk di kandang memberi makan ternaknya yang sedang menanti si tuan datang menaburkan sarapan jagung dalam bumbung-bumbung
kemarin kang karjo telah dicekiknya ia tersengal kehabisan nafasnya tergantung dengan tali melilit di lehernya kata teman dekatnya, Allah menginginkan semuanya dia rindu santapan opor di waktu yang telah lama tersohor bahwa opor tak ubahnya menu utama di pesta obor tatkala penghuni surga berlari, berlomba menuju alun-alun dengan obor yang tak akan padam bila dewa bayu tak meniupnya
peternakan Allah semakin maju pesat lihat saja jakarta yang penat jejal manusia tak muat lihat saja berlin yang padat ada ayam kampung, ayam kota, ayam turki, ayam italia, ayam rusia, ayam cina bahkan ayam kampus juga mungkin lezat, jika Allah menginginkan sop ayam tinggal ingin, semua instan kata-kata menjadi realita
hari ini mpok aminah mengeluhkan tumor yang bersarang di otaknya ia lemas terkulai di kandangnya dan Allah hanya tahu, ia ayam yang penyakitan dan harus disingkirkan mana mau Allah makan ayam yang kurang steril
melihat ayam yang sakit gatal-gatal saja Allah alergi cepat-cepat Allah memisahkan dengan ayam yang masih fit dan fresh agar tak menular ke yang lain merawatnya? ah, persediaan lain toh masih banyak
setiap kali selera Allah memang berubah kemarin minta opor, hari ini baru saja minta sop ayam besok mungkin bakso, besoknya lagi soto ayam, dan besoknya lagi minta sate ayam dan begitulah seterusnya. variasilah! tegasnya menggebu-gebu
kemarin kang karjo hari ini soares, besok mungkin simatupang. entah besoknya kamu atau aku akan jadi ayam panggangnya