::: GENDHOTWUKIR :::


Tabloid Apakabar Hongkong
Pojok Victory:
 Edisi-17 Th.2
http://www.tabloidapakabar.com/


Tentang Seorang Laki-Laki Tanpa Masa Lalu

Cerpen: Gendhotwukir


Aku terjaga. Kegelapan menyelimuti diriku. Aku merasa, tak ada tanda-tanda kehidupan di sekelilingku. Di manakah aku saat ini? Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Apakah aku sedang bermimpi? Apakah aku sudah mati? Aku sungguh tak mengerti. Aku segera ingin berteriak meminta pertolongan kepada siapa saja yang mungkin aku lihat. Tak seorang pun tampak di hadapanku. Aku ingin berteriak, tetapi aku tak sanggup melakukannya. Aku terlalu lemas. Suara dari tenggorokanku tak ubahnya desisan seekor ular.

Gerakan anggota tubuhku tak dapat kukendalikan. Tangan, kaki dan kepalaku tak dapat kuperintah lagi. Aku berhadapan dengan dunia yang begitu asing. Tangan, kaki dan kepalaku memang masih menyatu dengan tubuhku, namun tidak menjadi milikku. Aku tak mampu melakukan apa-apa, kecuali bertanya dan terus bertanya. Semakin bertambah keinginan dan usahaku untuk membebaskan diri dari keadaan menakutkan ini, semakin pening kepalaku. Dan puncaknya, aku tak sadarkan diri.

Suatu ketika aku mendengar suara langkah-langkah kaki orang di sekelilingku. Aku ingin membuka mataku, tetapi tak bisa. Samar-samar kudengar seseorang berkata, “Ah, tidak ada perubahan.“ Pikiranku lantas menerka-nerka, siapakah orang tersebut. Dugaanku, ia seorang laki-laki yang sudah tua. Suaranya sudah cukup berat dan terpatah-patah. Sesaat, kurasakan mataku disentuh oleh seseorang. Tiba-tiba sorot cahaya yang sangat menyilaukan mendarat di mataku. Aku tersentak. Gerakan tangan dan kakiku tak dapat kukendalikan.

Aku terdiam dan sedikit lebih tenang. Lalu, kubuka mataku pelan-pelan. Samar-samar kulihat wajah seorang yang tak mampu kukenali. Dengan pandangan penuh selidik ia menatap dan mengamat-amati diriku. Ia mendekatkan pandangannya ke arah wajahku. Ia mengelus-elus kening, pipi dan kedua mataku, lalu dengan lembut membuka dan menutup kelopak mataku berulang-ulang. Aku ingin berbicara, tapi aku  tak mampu melakukannya. Mulut dan lidahku terasa kaku.

Ketika lelaki tua itu menutup kedua kelopak mataku untuk beberapa saat, tiba-tiba aku tersentak dan ingin berteriak. Tampak bayangan hitam menyeramkan dengan wajah merah membara mengerumuniku. Aku terengah-engah. Aku meronta sejadi-jadinya, ketakutan. Dari mana datangnya bayangan hitam menyeramkan itu, aku tak tahu. Ia datang tiba-tiba.
Tak lama, kurasakan tangan-tangan yang perkasa memegangi kedua tangan dan kakiku. Aku berusaha melawan, namun aku terlalu lemah. Aku merasakan sengatan di bagian lengan kananku. Seseorang telah menusukkan sesuatu ke bagian lengan kananku. Aku tak sadarkan diri.

Aku kembali terjaga, saat tangan-tangan perkasa berusaha menegakkan posisi tubuhku. Aku berusaha membuka mataku. Di hadapanku berdiri seorang bapak tua yang menimang-nimang diriku. Aku mencoba menerka, siapakah lelaki tua yang berdiri di hadapanku ini. Aku mengerti kini. Ia seorang dokter. Di sampingya juga berdiri seorang gadis muda. Tak salah lagi, ia seorang suster perawat, pikirku. Kini aku tahu, aku berada di rumah sakit. Atas kesadaran keberadaanku itu, aku kini sungguh merasa nyaman. Perasaan ini tiba-tiba saja muncul dari alam bawah sadarku.

Dengan sisa kekuatanku, aku mencoba berbicara dengan mereka. Aku ingin tahu apa yang sesungguhnya terjadi pada diriku. Aku tak mampu melakukannya, karena rasa sakit yang luar biasa di bagian kerongkonganku. Semakin aku ingin berbicara, lagi-lagi gerakan anggota tubuhku tak terkendalikan. Aku meronta dan tak lama kemudian lelaki tua itu segera membiusku dengan dibantu beberapa orang yang memegangi diriku. Selalu saja begitu hingga berulang-ulang.

Setelah aku dibius, biasanya aku merasa sedang melayang ringan. Aku seperti sedang terbang. Keinginan untuk berbicara menghilang. Penglihatanku mulai kabur. Aku seperti sedang mabuk dan lunglai. Apapun yang tampak di hadapanku tak mampu kukenali lagi. Aku tidak mampu berpikir jernih lagi.

Aku kadang-kadang melihat wajah-wajah orang lain di sekelilingku ikut sedih dengan apa yang aku alami. Dari pancaran mimik wajahnya aku bisa membaca dan mengenali kesedihan mereka. Sering pula kulihat mereka meneteskan air mata, tanpa kuketahui alasannya dengan pasti. Mereka mungkin prihatin dengan keadaanku.

Sayang mereka semua tak bedanya dengan dokter dan perawat yang menanganiku. Dokter dan perawat itu hanya menyibukkan diri dengan parahnya luka yang tersebar di tubuhku. Mereka tidak pernah sekalipun berusaha berkontak dengan diriku. Mereka hanya menyibukkan diri dengan tubuhku, tidak dengan diriku.

Suatu kali aku mendengar percakapan singkat dari orang-orang yang berada di sekelilingku. Mereka berbicara tentang diriku.
“Bagaimana keadaannya, Dok?“ tanya seorang ibu tua.
“Ya, semakin membaik.“
“Itu luka tembakan di... ?“
“Ssst ...!“ sergah dokter sambil melirik diriku. Ia tahu bahwa aku masih terjaga. Dengan kejadian itu aku merasa ada sesuatu yang ingin mereka sembunyikan dariku.

Luka tembakan? Tembakan? Aku tertembak atau ditembak? Oleh siapa? Mengapa? Aku berusaha mengingat setiap kejadian yang telah aku alami. Sia-sia. Tak kutemukan satu pun peristiwa yang masih tersimpan dalam memori otakku. Siapakah diriku, aku pun tak mengenalinya lagi.

Tentu saja aku ingin mengetahui maksud perkataan ibu itu. Namun aku kini menyadari, setiap aku ingin berbicara, pasti gerakan tubuhku akan meronta tak tentu arah. Tentu saja aku kini harus mampu mengendalikan keinginanku pula, agar dokter tak bergegas membiusku kala aku meronta. Selalu saja terngiang kata ibu tua tadi, justru karena aku tak mengerti maksud perkataan itu.

Telah berhari-hari lamanya orang-orang di sekelilingku hanya menyibukkan diri dengan keadaan jasmaniku yang kritis dan tidak pernah sekalipun dengan diriku. Mereka tak peduli dengan diriku. Tak seorang pun berusaha menyapaku. Aku merasakan kesepian yang mendalam. Namun, aku berusaha untuk tidak bertanya meski keinginan itu tetap ada.

Bagaimana juga aku dapat bertanya, sementara aku tak mempunyai lidah lagi. Lebih dari itu, agar aku lebih berkonsentrasi pada setiap pembicaraan orang-orang yang mengelilingiku. Keberadaanku di hadapan mereka bukan lagi sebagai seorang manusia yang punya pikiran, perasaan, dan keinginan untuk tahu, melainkan seseorang yang mesti dikasihani dan memerlukan penanganan medis yang serius.

Bukalah mata kalian lebar-lebar, saya toh di sini, pikirku dalam-dalam yang lalu ingin kumuntahkan dalam teriakan lantang. Tak satu kata pun keluar dari mulutku. Aku sama sekali tidak punya harapan untuk berkomunikasi dengan mereka. Sepertinya aku dan kenyataan di luar diriku telah terbatasi. Aku yakin mereka tak memahami diriku, bahkan jika mereka telah berpikir dengan segala kesadaran mereka tentang diriku.

Sudah berapa hari aku berbaring aku tak tahu. Hingga suatu saat datang seorang gadis berdiri di hadapanku dan memperhatikanku dengan seksama. Ia tampak ragu-ragu dengan apa yang ingin dilakukannya. Ia berkali-kali datang mendekatiku  dan memandang di kedalaman mataku. Ia mencoba membaca diriku dari sudut mataku. Sayang aku tak mampu menatapnya terlalu lama, karena tiba-tiba kurasakan nyeri yang luar biasa di bagian pahaku. Tentu, satu-satunya kesempatan untuk berkomunikasi yang baru akan aku bangun itu lenyap begitu saja. Aku merintih kesakitan.

Suatu ketika perempuan muda itu membacakan sebuah buku. Kalau tidak salah dengar dari setiap pembicaraan di antara mereka yang menungguiku, itulah buku kesayanganku. “Zarathusta“ karya Friedrich Nietzsche, yang telah diterjemahkan oleh HB Jassin ke dalam bahasa Indonesia. Sayang, aku sama sekali tak memahaminya. Sudah beberapa alinea dibacanya, namun aku tak tertarik sedikit pun. Aku sudah tidak mau mendengarnya. Semakin lama pikiranku kuarahkan pada hal-hal yang membutuhkan konsentrasi penuh, pening yang kudapati. Dengung di dalam kepalaku semakin mengeras. Aku memejamkan mata dan menggeleng-gelengkan kepala.

Perempuan muda itu berhenti membaca untukku dan memegang tanganku. Kali ini ia memegang kepalaku sehingga untuk waktu yang cukup lama kami saling bertatapan. Saat itu batinku menjadi seperti terbebas dari suatu ikatan yang telah memenjarakan diriku dan dari batas antara diriku dan kenyataan hidup di luar diriku. Saat itulah aku merasakan kebahagiaan mengalir dalam kehidupanku. Aku merasakan ada kehidupan, setelah bermil-mil jauhnya melintasi padang pasir kesepianku, meski selama itu juga tak kupikul lagi harapan akan kehidupan seperti yang terjadi kali ini.  

“Kamu mengerti aku?“ tanyanya tiba-tiba. Ingin sekali aku berteriak sekuat tenaga, “Ya!!!“ Sayang, lagi-lagi hanya desisan yang keluar dari tenggorokanku. Sekali lagi kami saling bertatapan. Di situlah kutemukan pohon rindang, di kala terik dalam perjalanan hidupku. Segar dan sepoi angin yang menyapu wajah kehidupanku. Aku merasa ketentraman dan kedamaian yang luar biasa.

“Kamu mengerti aku?“ tanyanya sekali lagi. Maka saat itu juga kupejamkan mataku sebagai tanda jawaban, “Ya“.
Aku yakin ia mampu menafsirkan kedipan mataku. Ia memahami diriku. Ia mengerti kesendirianku dan kesepianku. Ia pun tiba-tiba menangis. Saat itu juga, aku menangis untuk pertama kalinya, seperti untuk pertama kalinya tangis bayi ketika lahir di dunia. Aku menangis karena terbebas dari kesendirian. Perempuan itu memegang erat tanganku, dan dengan penuh kasih ia berkata, “Maafkan aku, mulai sekarang aku akan selalu bersamamu.“ Saat itu kesepianku lenyap seketika. Aku tidak seorang diri, karena sesungguhnya aku memang tidak mampu hidup seorang diri. Aku butuh teman hidup yang mengerti diriku, bukan hanya orang-orang yang sekadar duduk dan mengamatiku.

Inilah kisah awal kelahiranku ke dunia ini. Aku lahir ke dunia bukan sebagai seorang bayi. Tapi itulah diriku. Aku tidak dapat berbicara karena aku tidak mempunyai lidah. Aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Aku lumpuh total. Kamarku adalah duniaku. Ketika santap siang atau malam tiba, aku makan seperti anjing karena kedua tanganku tak berdaya lagi. Perempuan muda yang kini kuketahui namanya, Silvia, yang mungkin karena tidak tega atau kasihan melihat diriku, segera saja menyuapiku ketika melihatku makan dengan susah payah. Kadang pula menetes air matanya, tanpa kuketahui sebabnya. 

Silvia yang akhir-akhir ini mengaku sebagai belahan jiwaku dan terus meyakinkan diriku bahwa ia adalah calon istriku di suatu malam menceritakan bahwa orang-orang yang selama ini menungguiku di rumah sakit adalah orang-orang dekatku sendiri. Ayah dan ibuku, kakak dan adikku, kerabat-kerabatku, kenalanku, teman SD, SMP, SMA dan teman di bangku perkuliahan. Sayang, aku sampai saat ini tidak yakin bahwa ada masa lalu yang telah terekam dalam hidupku dalam kebersamaan bersama mereka. Aku terus mencoba menemukan mereka di masa laluku, tapi tak kutemukan jejak sedikit pun.

Beberapa tamu yang mengunjungiku sering berbicara dengan bersemangat tentang diriku di ruang tamu, yang tak jauh dari tempat tidurku. Dari setiap pembicaraan yang aku dengar dari mereka, aku merasa heran dengan diriku sendiri. Kata mereka, pada 1997 aku menghilang. Dugaan mereka aku diculik oleh sekelompok orang berambut cepak karena terlibat kegiatan makar menentang pemerintahan yang sedang berkuasa. Aku dituduh menggerogoti stabilitas nasional, bertindak anarkis, dan tidak mencerminkan ideologi Pancasila serta mengajarkan paham komunis di Jakarta.

Keberadaanku hingga 1998 tak seorang pun mengetahui, juga pihak Kapolres dan Kodim setempat, katanya. Sampai suatu hari aku ditemukan oleh seorang pencari kayu di hutan belantara di pulau Kalimantan dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Sayang, aku tak mengerti omongan mereka. Juga saat mereka membicarakan tentang diriku yang telah mengalami cuci otak. Mereka begitu yakin, para penculik telah mencuci otakku, sehingga aku tak ingat apa-apa tentang masa laluku. Hal ini kata mereka juga telah dibuktikan secara medis. Ah..., aku tak mengerti pula maksud mereka ketika mereka bersikeras menunjukkan segudang ceritera kepadaku, yang katanya itu masa laluku.

Aku tak mengenali masa laluku. Meski setiap kali pula mereka berusaha membantuku untuk mengingat satu peristiwa saja di masa lalu, katanya untuk pijakan peristiwa-peristiwa lainnya, dengan menunjukkan foto-foto yang katanya foto-fotoku kala aku di bangku kuliah, aku tak tahu apa-apa.

Aku tak punya masa lalu seperti yang mereka katakan. Aku tak mampu melahirkan masa lalu seperti keinginan mereka. Aku juga tak tahu mengapa keadaan jasmaniku begini. Jangan lalu bertanya siapa yang telah melakukannya, karena aku tak tahu apa-apa. Hanya satu hal yang kuinginkan kini, yaitu ketidakhadiran bayangan-bayangan hitam dan wajah-wajah menyeramkan yang memangsaku habis-habisan di dunia tidurku karena selalu saja membuat tidurku tidak nyenyak. Siapakah aku? Aku tidak tahu!

Jerman, 2006


ruliandri wrote on Oct 31, '07
i like your story. :)
chanina wrote on Oct 31, '07
kok jd inget jason bourne ya:), ada sekuelnya ga?
andreasap wrote on Oct 31, '07
Bagus
gendhotwukir wrote on Nov 4, '07
i like your story. :)
Mercy.
gendhotwukir wrote on Nov 4, '07
chanina said
kok jd inget jason bourne ya:), ada sekuelnya ga?
Who is Jason Bourne. Aku belum tahu. Informasinya, please!
gendhotwukir wrote on Nov 4, '07
Bagus
Danke Bung Andreas.
weningtyas wrote on Nov 6, '07
Ndot ndot...ngumpet kemana aja nih.
gendhotwukir wrote on Nov 12, '07
aku tidak ngumpet kemana-mana Sis. Thanks
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help