Mendengarkan itu Indah
Majalah DUTA Edisi Agustus 2007
Oleh: Gendhotwukir
W.Clebsch-C-Jaekle dalam bukunya Pastoral Care in Historical Perspektive (New York: 1967, hal 33-36) menekankan pentingnya seorang konselor mengerti benar arah dasar dari konseling pastoral. Seorang pendeta atau pastor yang bisa juga merangkap seorang konselor harus sadar betul bahwa konseling pastoral tidak berorientasi pada masalah (problem oriented), tetapi pada kondisi manusia (human condition oriented). Dengan kata lain, orientasi konseling pastoral adalah pada totalitas kehadiran suka duka kondisi kehidupan manusia.
Dalam kaitan dengan human condition oriented fungsi membimbing secara manusiawi dalam konseling pastoral perlu mendapat tekanan khusus. Fungsi ini berarti bahwa seorang konselor harus mampu membantu orang yang didampingi agar dapat mengambil keputusan yang realistik dan memuaskan dengan memperhatikan aspek kondisi manusiannya. Bersama-sama dengan orang yang didampingi konselor mencari kemungkinan pemecahan masalah dan menimbang segi positif dan negatif dari setiap jalan keluar.
Dalam fungsi membimbing, seorang konselor membutuhkan ketrampilan mendengarkan yang positif dan efektif agar benar-benar mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Seorang konselor harus sungguh menyadari bahwa mendengarkan secara baik itu bukan tugas yang mudah untuk dilaksanakan. Seni mendengarkan harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Mendengarkan Aktif
Para ilmuwan mengungkapkan bahwa manusia biasanya mengalihkan konsentrasi atau perhatiannya setiap 2 sampai 5 detik. Tidak mengherankan, manusia terus melakukan sesuatu yang lain sambil mendengarkan. Temuan lain mengatakan bahwa manusia dapat mengingat hanya 20% dari apa yang didengarnya. Hasil penelitian yang demikian tentunya menyebabkan cara mendengarkan menjadi tantangan yang nyata. Adalah alasan yang wajar apabila seorang pendeta atau pastor yang bisa juga seorang konselor mempelajari dan melatih ketrampilan-ketrampilan mendengarkan secara positif.
Mendengarkan yang positif itu mengacu pada pandangan pribadi konselor mengenai pemahaman mendengarkan sebagai sarana yang efektif dalam konseling pastoral. Hal ini mengacu pada pemahaman konkret bahwa mendengarkan itu akan mempermudah pendeta atau pastor sebagai konselor dan orang lain untuk berkomunikasi secara efektif. Ketrampilan mendengarkan yang positif adalah satu ketrampilan antar pribadi yang cukup handal dan harus dikuasai oleh seorang konselor.
Dr. Thomas Gordon membedakan seni mendengarkan sebagai tanggapan konstruktif manusia dalam 4 (empat) model yaitu mendengarkan pasif (diam), tanggapan pengakuan-penerimaan, ajakan untuk melanjutkan dan mendengarkan aktif. Bagi Gordon, ketiga cara mendengarkan yang pertama memiliki keterbatasan karena tidak banyak interaksi. Dialog belum terbangun karena konseli lebih banyak aktif mengungkapkan persoalan dan perasaan-perasaannya. Konseli hanya tahu bahwa dia didengarkan, tetapi tidak yakin apakah konselor menerima dirinya dengan persoalannya.
Dr. Thomas Gordon lebih menekankan pentingnya seni mendengarkan pada model mendengarkan aktif. Dalam mendengarkan aktif konselor sudah sampai pada tahap usaha mengerti perasaan konseli serta pesan yang disampaikannya. Setelah itu konselor mengumpanbalikkan apa yang dianggapnya sebagai arti pesan kepada konseli. Di dalam mendengarkan aktif ada proses kreatif konselor karena konselor berusaha mencocokkan ketepatan inti pesan yang diterimanya dengan pemahaman konkret yang dialami konseli. Umpan balik atas arti pesan yang tepat mendeskripsikan kenyataan bahwa konseli dimengerti oleh konselor. Mendengarkan aktif mengandaikan pula relasi dialogis konseli dan konselor, berbeda dengan ketiga model sebelumnya yang menekankan komunikasi monolog (searah) dari konseli ke konselor.
R. Sinurat dalam bukunya “Ketrampilan Komunikasi 2: Tanggapan Empatik dan Asertif“ (Seri Pastoral 313: 2000, hal 7-8) menekankan pula pentingnya ketrampilan mendengarkan aktif model Gordon ini. Agar model mendengarkan aktif menjadi efektif dalam praksisnya, konselor harus memiliki sikap-sikap tertentu. Sikap-sikap tersebut adalah:
- Sikap mempercayai kemampuan konseli untuk mengatasi perasaan-perasaannya dan mencari penyelesaian terhadap masalahnya. Konselor memberi kesempatan kepada konseli untuk menemukan pemecahan masalahnya.
- Sikap menerima perasaan konseli secara sungguh-sungguh, apa pun perasaan itu.
- Kesadaran murni bahwa perasaan hanyalah sementara (labil), tidak tetap. Perasaan-perasaan konseli tidak akan selamanya berada dalam diri orang yang bersangkutan.
- Kesediaan konselor meluangkan waktu untuk mendengarkan.
- Konselor harus sungguh-sungguh mau menolong konseli menghadapi masalahnya pada saat yang bersangkutan.
- Sikap melihat konseli sebagai pribadi yang unik, yang terpisah, yang mempunyai kehidupan sendiri, dan memiliki perasaan-perasaannya sendiri.
- Kesadaran konselor bahwa tidak setiap orang dapat langsung mengungkapkan masalah yang sesungguhnya dihadapi.
- Konselor harus mengedepankan privacy konseli dan merahasiakannya.
Banyak ahli konseling mengungkapkan bahwa model mendengarkan aktif ini efektif dan banyak bermanfaat dalam prakteknya. Tesis kecil ini ternyata memang benar. Pada tataran praksis model mendengarkan aktif memberikan banyak manfaat. Manfaat-manfaat tersebut yaitu:
- Mendorong terjadinya katarsis (perasaan negatif berkurang atau hilang dengan jalan mengungkapkannya secara terbuka).
- Menolong orang untuk menjadi tidak terlalu takut terhadap perasaan-perasaan negatif.
- Mengembangkan hubungan yang hangat atau intim.
- Memudahkan pemecahan masalah.
- Mempengaruhi orang untuk mau lebih mendengarkan pendapat orang lain.
- Melatih orang untuk mengarahkan dirinya, bertanggung jawab dan berdiri sendiri.
Mendengarkan dan Mencatat
Telinga adalah sarana utama menyampaikan sebuah pesan ke otak. Pengetahuan bahasa, masalah, sikap pembicara, kebutuhan konselor akan informasi terpilih merupakan faktor yang sangat membantu konselor memahami apa yang yang dikatakan konseli. Namun konselor juga harus sadar, bahwa mendengarkan sambil mengingat itu sulit.
Ketika mendengarkan konseli, konselor sebaiknya peka dan siap memahami pesan dengan satu kali mendengarkan. Mendengarkan tidak seperti membaca, tempat seseorang dapat mengulang atau melompati halaman yang tercetak. Meski demikian, jika pesan konseli tidak dimengerti konselor, konselor bisa dengan sopan meminta konseli mengulanginya.
Untuk menghindari akibat fatal seperti ketidaknyamanan selama proses konseling karena konselor sering meminta konseli mengulang kalimatnya, alangkah baiknya jika konselor membuat catatan kecil. Mendengarkan sambil mengingat itu tidak gampang. Catatan kecil dimaksudkan sebagai sarana meningkatkan daya ingat dan mengatur ide dan informasi yang didengar. Selain itu, catatan kecil juga berguna untuk pertemuan lanjutan di masa yang akan datang dengan konseli. Proses konseling pastoral biasanya berlangsung tidak hanya dalam satu kali pertemuan, kecuali kalau konseli memang merasa tidak nyaman dengan koselor.
Kemampuan konselor untuk menuliskan ide di atas kertas dalam format yang tepat dan bentuk yang enak akan dibantu, apabila konseli membantu proses mendengarkan dengan membangkitkan minat konselor pada masalahnya dan menjaga perhatian konselor, meski hal ini tidak selalu dapat diharapkan sebelumnya.
Rintangan-Rintangan Saat Mendengarkan
Setiap rintangan itu mencegah konselor untuk mendengarkan secara obyektif dan cermat kepada konseli. Kalau konselor menemui rintangan saat mendengarkan, maka konselor akan kehilangan konsentrasi. Selain itu, bisa saja konselor akan terus berkutat pada hal-hal yang menghalangi kemampuan konselor untuk berkomunikasi. Rintangan-rintangan selama komunikasi dengan konseli bisa mengalihkan perhatian konselor dan berakibat pada hilangnya orientasi pembicaraan. Akibat selanjutnya bisa terjadi salah tafsir pada fakta dan pendapat.
Konselor yang ulung dalam mendengarkan aktif perlu juga mengenali segala macam model rintangan yang bisa terjadi selama proses konseling berlangsung. Kehadiran rintangan dalam setiap hubungan antar pribadi memang tidak bisa dihindari. Meski demikian, apa saja yang dapat mengganggu konsentrasi, mengalihkan perhatian dari topik pembicaraan harus disadari dan dihindari agar komunikasi sungguh-sungguh efektif.
Macam-macam rintangan selama mendengarkan bisa berupa rintangan pada kategori lingkungan seperti ruangan yang pengap, penerangan yang kurang atau terlalu terang. Pada kategori bahasa bisa berupa kalimat yang kompleks, istilah-istilah yang sukar, logat khusus. Pada kategori psikologis bisa berupa prasangka, kemarahan, perbedaan kemauan. Pada kategori fisiologis bisa berupa sakit kepala dan kecapaian. Pada kategori persepsi seperti berupa sudut pandang yang berlainan. Pada kategori rintangan isi bisa diberi contoh misalnya topik pembicaraan yang tidak menarik minat konselor dan pembicaraan terlalu panjang. Dan yang terakhir yaitu rintangan pribadi seperti keinginan untuk segera memberi tanggapan sebelum konseli selesai bicara dan monopoli pembicaraan (tidak sabar mendengarkan).
Kesadaran konselor memahami dan menyadari segala macam bentuk rintangan baik yang dari luar dirinya maupun dari dalam dirinya sendiri akan sangat membantu kelancaran komunikasi dengan konseli. Proses konseling pastoral akan berlangsung dengan nyaman. Meski telah mempejari model-model rintangan yang biasa terjadi dalam konseling pastoral, sebaiknya konselor tetap memiliki sikap kepekaan karena yang namanya rintangan itu kapan saja bisa muncul dan bisa pula bentuknya baru, tanpa konselor pikirkan sebelumnya.
Mendengarkan itu Indah
Ketika pergi ke seorang pastor (konselor) setiap konseli ingin agar konselor mengerti perasaannya, tidak hanya mengerti apa yang dikatakannya. Konseli mengharapkan adanya empati dengan perasaan-perasaannya. Apabila konselor tidak berempati, konseli tentu merasa bahwa hal yang terpenting baginya pada saat itu yaitu perasaannya tidak dimengerti. Mendengarkan aktif adalah model yang tepat bagi konselor dalam hal ini bagi para pastor yang berkecimpung dalam konseling pastoral ataupun pastor pada umumnya.
Mendengarkan aktif jelas meminta konselor menyingkirkan pikiran-pikiran serta perasaan-perasaannya sendiri, untuk dapat memahami pesandan maksud konseli. Seorang konselor sebaiknya mampu menempatkan dirinya pada posisi konseli (dalam frame of reference-nya, ke dalam dunia realitas konseli). Dengan begitu, konselor benar-benar tahu apa yang dimaksudkan konseli.
Karena mengerti dengan tepat bagaimana konseli berpikir atau merasa, karena mampu menempatkan diri pada posisi konseli, karena mampu melihat dunia sebagaimana konseli melihatnya, konselor bisa saja lantas memiliki pilihan lain atas pendapat dan sikap yang selama ini dipertahankan. Mendengarkan aktif memberikan nilai ganda yaitu baik bagi konselor maupun bagi konseli. Konseli bisa memperoleh bimbingan dan konselor bisa belajar dari konseli. Konselor bisa belajar dari pengalaman dan sudut pandang konseli. Peningkatan ketrampilan mendengarkan aktif adalah proses evolusioner. Ketrampilan mendengarkan aktif sangat penting bagi para pendeta dan pastor. Mendengarkan itu lebih indah dan bermanfaat bagi jemaat daripada kata-kata yang bernada menilai atau menggurui dalam sebuah konseling pastoral atau bimbingan.***
Gendhotwukir, Penyair dan Jurnalis dari Komunitas Merapi.