|
Minggu, 06 Mei 2007 |
http://batampos.co.id/
Sajak-sajak Gendhotwukir
Labuhan Hujan dinding hujan yang menjerembab. dipalur awan hitam tumbuh di rongga alap-alap. bau rumput menjemput jejak-jejak lepuh. birahi dupa memanjang terjang syair pawang hujan. gamelan radang di sepanjang hilir hujan. ada genang dan linang tumpah di sepetak ingatan. jeda waktu kian petang di lalu-lalang kunang-kunang. sejarah berulang hari-hari tanpa suratan. kerut menghilang di matanya hujan melahirkan petir. hidup kian getir kilir-kilir seperti berzikir. larungkan angin selatan dengan pawai kabut. menidurkan tahajud semenjak hari tanpa labuhan hujan. carut-marut Yogyakarta, 2007 Letih yang Melahirkan Mimpi di kanvasmu aku memaparkan merjan-merjan letih letih yang melahirkan mimpi. liuk jajaran jejal lirih kabut putih raib di selembar meja bertapih selepas jeda waktu yang berkeringat. timbun kelesuan di geriap kawanan semut di permukaan galian korban sulalah kemlaratan letih yang tak terbinasakan oleh secangkir kopi melayang. muncul di muara pesta sesaji bertepikan kumandang sunyi hari-hari terlewati ingin dikutuki dibungkam dalam kotak peti; mati saat ada matahari, rajutan mimpi yang bikin iri rasanya tak ada guna menyimpan mimpi yang datang dari ketamakan diri membiarkannya menjelma menjadi ribuan belatung yang terus menggantung. pada kenangan landung jaiz. biar terkikis atau mengikis malam runtuh di sepotong letih yang meringis Taman Budaya Yogyakarta, 2007 Ziarah Hening kata-kata mengendap, lesap di rongga batu hitam simpuh sujud. tawakal berselimutkan kabut senja berkerudung jilbab kelam. satu tertuju pada semesta searah pikiran tak mendua. nafas tereja sesatu. mata terpendam pada sebait kidung pujian; sealir ayat-ayat Quran Yogyakarta, 2007 Modiste Pinggiran Kota syifa terlahir menjadi modiste. dari jarinya mekarlah awan hitam berderit. kelayapan setelah renungnya menjaring angin. tidak loba sepanjang kehidupan di bawah matahari. pusaran waktu yang kian merepih. rempenai di muara mata seletih taburan rencana. kutuk dan waktu di jendela bibir tua jari-jarinnya melahirkan keluhan kota tua. hati membara sepanas kutukan surya membabi buta pada angkara murka ujung jarumnya terobos barisan pedang. setajam kata-kata dari muara kemarahan. hari-hari yang dipermainkan mengalirkan ratap dan lidah keringatan saat rajutan bintang mulai bertebaran di tubuhnya ada impian kota kota yang tidak terpinggirkan seperti dirinya kisahnya ingin nyata tak sebatas memandang bening kaca terlupa; terjamu vodka dan tebaran mega nasib dan kutuk; modiste pinggiran kota seperti dicela ribuan gagak tua Yogyakarta, 2007 |
| |
|