::: GENDHOTWUKIR :::

Blog EntrySAJAK: Sajak-Sajak Gendhotwukir di BATAM POSMay 9, '07 12:05 PM
for everyone

Minggu, 06 Mei 2007

http://batampos.co.id/


Sajak-sajak Gendhotwukir

Labuhan Hujan
dinding hujan yang menjerembab. dipalur awan hitam
tumbuh di rongga alap-alap. bau rumput menjemput
jejak-jejak lepuh. birahi dupa memanjang
terjang syair pawang hujan. gamelan radang
di sepanjang hilir hujan. ada genang dan linang
tumpah di sepetak ingatan. jeda waktu kian petang
di lalu-lalang kunang-kunang. sejarah berulang
hari-hari tanpa suratan. kerut menghilang
di matanya hujan melahirkan petir. hidup kian getir
kilir-kilir seperti berzikir. larungkan angin selatan
dengan pawai kabut. menidurkan tahajud
semenjak hari tanpa labuhan hujan. carut-marut
Yogyakarta, 2007

Letih yang Melahirkan Mimpi
di kanvasmu aku memaparkan merjan-merjan letih
letih yang melahirkan mimpi. liuk jajaran jejal lirih
kabut putih raib di selembar meja bertapih
selepas jeda waktu yang berkeringat. timbun kelesuan
di geriap kawanan semut di permukaan galian
korban sulalah kemlaratan
letih yang tak terbinasakan oleh secangkir kopi
melayang. muncul di muara pesta sesaji
bertepikan kumandang sunyi
hari-hari terlewati ingin dikutuki
dibungkam dalam kotak peti; mati
saat ada matahari, rajutan mimpi yang bikin iri
rasanya tak ada guna menyimpan mimpi
yang datang dari ketamakan diri
membiarkannya menjelma menjadi ribuan belatung
yang terus menggantung. pada kenangan landung
jaiz. biar terkikis atau mengikis
malam runtuh di sepotong letih yang meringis
Taman Budaya Yogyakarta, 2007

Ziarah Hening
kata-kata mengendap, lesap di rongga batu hitam
simpuh sujud. tawakal berselimutkan kabut senja
berkerudung jilbab kelam. satu tertuju pada semesta
searah pikiran tak mendua. nafas tereja
sesatu. mata terpendam
pada sebait kidung pujian; sealir ayat-ayat Quran
Yogyakarta, 2007

Modiste Pinggiran Kota
syifa terlahir menjadi modiste. dari jarinya
mekarlah awan hitam berderit. kelayapan
setelah renungnya menjaring angin. tidak loba
sepanjang kehidupan di bawah matahari. pusaran
waktu yang kian merepih. rempenai di muara mata
seletih taburan rencana. kutuk dan waktu di jendela bibir tua
jari-jarinnya melahirkan keluhan kota tua. hati membara
sepanas kutukan surya membabi buta pada angkara murka
ujung jarumnya terobos barisan pedang. setajam kata-kata
dari muara kemarahan. hari-hari yang dipermainkan
mengalirkan ratap dan lidah keringatan
saat rajutan bintang mulai bertebaran
di tubuhnya ada impian kota
kota yang tidak terpinggirkan seperti dirinya
kisahnya ingin nyata
tak sebatas memandang bening kaca
terlupa; terjamu vodka dan tebaran mega
nasib dan kutuk; modiste pinggiran kota
seperti dicela ribuan gagak tua
Yogyakarta, 2007


Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help