


Jon Sobrino, Ancaman Bagi Vatikan
Oleh : Gendhotwukir
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20070423225122
24-Apr-2007, 12:53:37 WIB - [
www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia
- Dari rentetan fakta dan kejadian yang telah terjadi dalam satu
dasawarsa terakhir ini dapat ditafsirkan untuk sementara bahwa di
tahun-tahun mendatang pasti akan terus terjadi gelombang semangat
mempertanyakan kredibilitas dan otoritas agama. Beberapa peristiwa
penting yang perlu dicatat dan dijadikan pijakan fakta yang tak
terbantahkan tese ini yaitu karikatur Nabi Muhammad SAW, Da Vinci Code hingga yang terbaru Jon Sobrino.
Tentu
saja masih banyak lagi peristiwa lain yang selama ini tidak terekspose
dan bernada menggugat konsep lama dalam agama. Alur berpikir
dekonstruksi dan gelombang pengkajian ulang keberadaan dan keterlibatan
agama dalam dunia kian hari kian mencuat. Pemimpin agama dan penjaga
dogma-ajaran ditantang para pemikir modern untuk berargumentasi.
Semangat demikian tentu saja lahir dalam lingkungan dunia yang dari
hari ke hari terus menuntut sikap kritis. Manusia dewasa ini dihadapkan
pada “simbol-simbol“ lama yang perlu diperbaharui dan dikoreksi muatan
isinya. Jika perlu, ajaran dan dogma dikaji ulang agar lebih
meng-konteks pada zamannya.
Jon Sobrino SJ adalah simbol
semangat dekonstruksi agama, teristimewa semangatnya mengoreksi ajaran.
Dari seluruh pengalamannya menelurkan ide-idenya, ia tidak bermaksud
mengoreksi ajaran yang telah berlaku. Setelah gagasan dan pemikirannya
dihadapkan pada otoritas gereja, baru disadari bahwa pemikirannya
secara tidak langsung mengandung semangat mengkritisi. Apa yang
dimaksudkan oleh Sobrino bahwa pemikirannya tidak bersebrangan dengan
ajaran iman gereja ternyata ditafsir berbeda oleh otoritas gereja.
Semangat mengkritisi ajaran hadir secara tidak langsung karena sikap
dan tindakan Vatikan melawan pemikiran Sobrino. Pada awalnya Sobrino
tidak bermaksud mengkritisi. Tapi berkat tanggapan otoritas gereja, ia
kini berada di koridor pengkritik Vatikan. Pemikiran-pemikiran Jon
Sobrino hingga kini terus diperdebatkan.
Jon Sobrino SJ lahir
di Bilbao, Baskeland (Spanyol), 27 Desember 1938. Sejak tahun 1957 ia
berkarya di El Salvador sebagai iman jesuit. Ia pernah belajar di St.
Louis (USA) dan di Frankfurt am Main (Jerman). Di Jerman ia mempelajari
ilmu filsafat dan teologi. Sehabis doktoral ia mengajar di Universitas José Simeón Cañas di Sal Salvador.
Sebagai
seorang teolog pembebasan, ia mengartikan semangat pembebasan secara
baru. Semangat pembebasan perlu didasarkan pada gagasan termasyurnya
bahwa percaya pada Allah berarti bersolidaritas dengan kaum tertindas.
Sebagai seorang teolog ia banyak menulis buku mengesankan dan beredar
di seminari-seminari dan pusat-pusat pendidikan di Amerika Latin.
Tidak
mengherankan, sejak tahun 2001 karya-karyanya sudah mulai diintai oleh
Vatikan. Ia juga pernah menjadi penasihat Uskup San Salvador Mgr. Oscar
Arnulfo Romero yang menjadi korban pembunuhan karena sikap kritisnya
pada sistem pemerintah El Salvador. Usai tragedi pembunuhan Romero, di
America Tengah berkecamuk perang saudara lebih dari 12 tahun.
Vatikan Vs Sobrino
Pada
hari Rabu, 14 Maret 2007 pukul 12.00 waktu Italia, Kongregasi Ajaran
Iman Vatikan secara resmi mengeluarkan dokumen yang berisi catatan
kritis (Notificatio) terhadap ajaran teologis Jon Sobrino SJ,
seorang teolog pembebasan terkemuka dewasa ini asal El Salvador,
Amerika Latin. Ini berarti bahwa pemikiran Jon Sobrino tidak selaras
dengan ajaran iman gereja Katolik dan tidak layak disebarluaskan.
Pemikirannya dinilai menyesatkan dan menyimpang dari ajaran resmi.
Ajaran teologis dari Sobrino yang termuat dalam dua bukunya Jesucristo liberador, Lectura historico-teológica de Jesús de Nazaret – Yesus Kristus Sang Pembebas, Kuliah Historis Teologis Yesus dari Nazaret (Madrid, 1991) dan La fe en Jesucristo. Ensayo desde las víctimas
– Percaya akan Yesus Kristus: Tinjauan dari Pihak Korban (San Salvador,
1999) dinilai tidak selaras dengan ajaran iman gereja. Ajaran kritis
dari Sobrino dianggap menyesatkan dan mengancam integritas iman gereja
Katolik Roma.
Buku pertama tersebut ditulis dalam Bahasa
Spanyol dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugis, Inggris,
Jerman dan Italia. Buku kedua ditulis dalam Bahasa Portugis dan telah
diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Italia.
Kongregasi
Ajaran Iman Gereja yang kini dikepalai oleh Kardinal William Levada
(Penerus Kardinal Ratzinger yang kini memegang pucuk hirarki gereja
Katolik) menemukan bahwa ada beberapa pemikiran kristologis yang tidak
sejalan dengan ajaran resmi gereja Katolik. Pemikiran-pemikiran
tersebut menyangkut Keallahan Yesus, Inkarnasi Putra Allah, Hubungan
antara Yesus Kristus dan Kerajaan Allah dan Yesus Kristus: Arti
Penebusan Kematian-Nya.
Vatikan menilai bahwa Sobrino terlalu
condong menekankan aspek solidaritas kepada kaum miskin dan tertindas,
tetapi kurang memberi tekanan pada aspek iman dan penebusan dari Yesus
Kristus. Sobrino juga dituduh mengembangkan pemikiran yang lebih berat
pada kemanusiaan Yesus. Dengan Notificatio tersebut Vatikan
juga mau menegaskan kembali tempat kristologi bukanlah gereja kaum
miskin seperti alur pemikiran Sobrino, tetapi iman apostolis yang
diwariskan gereja dari generasi ke generasi. Selain itu, Sobrino
dituduh mereduksi ke-Allah-an Yesus.
Dukungan dan Kemacetan Dialog
Sanksi pencabutan kuasa mengajar (Missio Canonica)
telah di depan mata. Ruang lingkup pengungkapan pemikirannya mulai
dibatasi. Ia kini menambah barisan teolog-teolog sebelumnya yang
bernasib sama seperti Dr. Eugen Drewermann dan Prof. Dr. Hans Küng.
Meski
demikian, Posisi Sobrino yang hingga kini belum mau mengubah alur
pemikirannya mendapat dukungan dari berbagai kalangan.
“Pertimbangkanlah, semua keputusan yang kamu ambil didukung oleh
serikat,” ungkap Pastor Kolvenbach SJ di Roma, pimpinan Serikat Jesuit
sebagai bentuk dukungan pada keputusan Sobrino. Dukungan lain juga
datang dari perhimpunan teolog “Johannes XXIII” yang mengecam Vatikan
bila sampai pada keputusan menghukumnya. Bagi mereka, menghukum Sobrino
berarti menghukum seorang teolog dari kedudukannya. Dukungan lain
datang juga dari Fakultas Teologi Katolik Universitas Muenster yang
sekaligus menuntut Vatikan agar Vatikan berani membuka peluang diskusi
atas pemikiran Sobrino.
Sikap tegas Vatikan ini menunjukkan
sikap arogansi pemikirannya. Vatikan lebih suka menutup diri untuk
diskusi. Sayang, apabila Vatikan yang selama ini getol dan sering
mengumandangkan pentingnya dialog dengan agama lain, tetapi di dalam
tubuhnya sendiri tidak bisa membangun semangat dialog. Kenyataan ini
lantas mengingatkan saya pada sosok teolog Jerman Dr. Eugen Drewermann
ketika memberikan siaran persnya di hadapan banyak wartawan lokal,
nasional dan internasional. Ia menyatakan bahwa ia keluar dari gereja
Katolik karena peluang-peluang dialog dan kompromi dengan Vatikan sulit
diciptakan. Quo Vadis semangat dialog Vatikan? Semangat
dialog perlu dibangun sejak dini di tubuh gereja Katolik sendiri, tidak
main pencabutan kuasa mengajar terus!
* Gendhotwukir, Penyair dan Penulis yang berdomisili di lereng Gunung Merapi