::: GENDHOTWUKIR :::

Blog EntryINTERMEZZO: Jon Sobrino, Ancaman Bagi VatikanApr 27, '07 11:31 AM
for everyone

Jon Sobrino, Ancaman Bagi Vatikan

Oleh : Gendhotwukir

http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20070423225122


24-Apr-2007, 12:53:37 WIB - [www.kabarindonesia.com]

KabarIndonesia - Dari rentetan fakta dan kejadian yang telah terjadi dalam satu dasawarsa terakhir ini dapat ditafsirkan untuk sementara bahwa di tahun-tahun mendatang pasti akan terus terjadi gelombang semangat mempertanyakan kredibilitas dan otoritas agama. Beberapa peristiwa penting yang perlu dicatat dan dijadikan pijakan fakta yang tak terbantahkan tese ini yaitu karikatur Nabi Muhammad SAW, Da Vinci Code hingga yang terbaru Jon Sobrino.

Tentu saja masih banyak lagi peristiwa lain yang selama ini tidak terekspose dan bernada menggugat konsep lama dalam agama. Alur berpikir dekonstruksi dan gelombang pengkajian ulang keberadaan dan keterlibatan agama dalam dunia kian hari kian mencuat. Pemimpin agama dan penjaga dogma-ajaran ditantang para pemikir modern untuk berargumentasi. Semangat demikian tentu saja lahir dalam lingkungan dunia yang dari hari ke hari terus menuntut sikap kritis. Manusia dewasa ini dihadapkan pada “simbol-simbol“ lama yang perlu diperbaharui dan dikoreksi muatan isinya. Jika perlu, ajaran dan dogma dikaji ulang agar lebih meng-konteks pada zamannya.

Jon Sobrino SJ adalah simbol semangat dekonstruksi agama, teristimewa semangatnya mengoreksi ajaran. Dari seluruh pengalamannya menelurkan ide-idenya, ia tidak bermaksud mengoreksi ajaran yang telah berlaku. Setelah gagasan dan pemikirannya dihadapkan pada otoritas gereja, baru disadari bahwa pemikirannya secara tidak langsung mengandung semangat mengkritisi. Apa yang dimaksudkan oleh Sobrino bahwa pemikirannya tidak bersebrangan dengan ajaran iman gereja ternyata ditafsir berbeda oleh otoritas gereja. Semangat mengkritisi ajaran hadir secara tidak langsung karena sikap dan tindakan Vatikan melawan pemikiran Sobrino. Pada awalnya Sobrino tidak bermaksud mengkritisi. Tapi berkat tanggapan otoritas gereja, ia kini berada di koridor pengkritik Vatikan. Pemikiran-pemikiran Jon Sobrino hingga kini terus diperdebatkan.

Jon Sobrino SJ lahir di Bilbao, Baskeland (Spanyol), 27 Desember 1938. Sejak tahun 1957 ia berkarya di El Salvador sebagai iman jesuit. Ia pernah belajar di St. Louis (USA) dan di Frankfurt am Main (Jerman). Di Jerman ia mempelajari ilmu filsafat dan teologi. Sehabis doktoral ia mengajar di Universitas José Simeón Cañas di Sal Salvador.

Sebagai seorang teolog pembebasan, ia mengartikan semangat pembebasan secara baru. Semangat pembebasan perlu didasarkan pada gagasan termasyurnya bahwa percaya pada Allah berarti bersolidaritas dengan kaum tertindas. Sebagai seorang teolog ia banyak menulis buku mengesankan dan beredar di seminari-seminari dan pusat-pusat pendidikan di Amerika Latin.

Tidak mengherankan, sejak tahun 2001 karya-karyanya sudah mulai diintai oleh Vatikan. Ia juga pernah menjadi penasihat Uskup San Salvador Mgr. Oscar Arnulfo Romero yang menjadi korban pembunuhan karena sikap kritisnya pada sistem pemerintah El Salvador. Usai tragedi pembunuhan Romero, di America Tengah berkecamuk perang saudara lebih dari 12 tahun.

Vatikan Vs Sobrino

Pada hari Rabu, 14 Maret 2007 pukul 12.00 waktu Italia, Kongregasi Ajaran Iman Vatikan secara resmi mengeluarkan dokumen yang berisi catatan kritis (Notificatio) terhadap ajaran teologis Jon Sobrino SJ, seorang teolog pembebasan terkemuka dewasa ini asal El Salvador, Amerika Latin. Ini berarti bahwa pemikiran Jon Sobrino tidak selaras dengan ajaran iman gereja Katolik dan tidak layak disebarluaskan. Pemikirannya dinilai menyesatkan dan menyimpang dari ajaran resmi.

Ajaran teologis dari Sobrino yang termuat dalam dua bukunya Jesucristo liberador, Lectura historico-teológica de Jesús de Nazaret – Yesus Kristus Sang Pembebas, Kuliah Historis Teologis Yesus dari Nazaret (Madrid, 1991) dan La fe en Jesucristo. Ensayo desde las víctimas – Percaya akan Yesus Kristus: Tinjauan dari Pihak Korban (San Salvador, 1999) dinilai tidak selaras dengan ajaran iman gereja. Ajaran kritis dari Sobrino dianggap menyesatkan dan mengancam integritas iman gereja Katolik Roma.

Buku pertama tersebut ditulis dalam Bahasa Spanyol dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugis, Inggris, Jerman dan Italia. Buku kedua ditulis dalam Bahasa Portugis dan telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dan Italia.

Kongregasi Ajaran Iman Gereja yang kini dikepalai oleh Kardinal William Levada (Penerus Kardinal Ratzinger yang kini memegang pucuk hirarki gereja Katolik) menemukan bahwa ada beberapa pemikiran kristologis yang tidak sejalan dengan ajaran resmi gereja Katolik. Pemikiran-pemikiran tersebut menyangkut Keallahan Yesus, Inkarnasi Putra Allah, Hubungan antara Yesus Kristus dan Kerajaan Allah dan Yesus Kristus: Arti Penebusan Kematian-Nya.

Vatikan menilai bahwa Sobrino terlalu condong menekankan aspek solidaritas kepada kaum miskin dan tertindas, tetapi kurang memberi tekanan pada aspek iman dan penebusan dari Yesus Kristus. Sobrino juga dituduh mengembangkan pemikiran yang lebih berat pada kemanusiaan Yesus. Dengan Notificatio tersebut Vatikan juga mau menegaskan kembali tempat kristologi bukanlah gereja kaum miskin seperti alur pemikiran Sobrino, tetapi iman apostolis yang diwariskan gereja dari generasi ke generasi. Selain itu, Sobrino dituduh mereduksi ke-Allah-an Yesus.

Dukungan dan Kemacetan Dialog

Sanksi pencabutan kuasa mengajar (Missio Canonica) telah di depan mata. Ruang lingkup pengungkapan pemikirannya mulai dibatasi. Ia kini menambah barisan teolog-teolog sebelumnya yang bernasib sama seperti Dr. Eugen Drewermann dan Prof. Dr. Hans Küng.

Meski demikian, Posisi Sobrino yang hingga kini belum mau mengubah alur pemikirannya mendapat dukungan dari berbagai kalangan. “Pertimbangkanlah, semua keputusan yang kamu ambil didukung oleh serikat,” ungkap Pastor Kolvenbach SJ di Roma, pimpinan Serikat Jesuit sebagai bentuk dukungan pada keputusan Sobrino. Dukungan lain juga datang dari perhimpunan teolog “Johannes XXIII” yang mengecam Vatikan bila sampai pada keputusan menghukumnya. Bagi mereka, menghukum Sobrino berarti menghukum seorang teolog dari kedudukannya. Dukungan lain datang juga dari Fakultas Teologi Katolik Universitas Muenster yang sekaligus menuntut Vatikan agar Vatikan berani membuka peluang diskusi atas pemikiran Sobrino.

Sikap tegas Vatikan ini menunjukkan sikap arogansi pemikirannya. Vatikan lebih suka menutup diri untuk diskusi. Sayang, apabila Vatikan yang selama ini getol dan sering mengumandangkan pentingnya dialog dengan agama lain, tetapi di dalam tubuhnya sendiri tidak bisa membangun semangat dialog. Kenyataan ini lantas mengingatkan saya pada sosok teolog Jerman Dr. Eugen Drewermann ketika memberikan siaran persnya di hadapan banyak wartawan lokal, nasional dan internasional. Ia menyatakan bahwa ia keluar dari gereja Katolik karena peluang-peluang dialog dan kompromi dengan Vatikan sulit diciptakan. Quo Vadis semangat dialog Vatikan? Semangat dialog perlu dibangun sejak dini di tubuh gereja Katolik sendiri, tidak main pencabutan kuasa mengajar terus!

* Gendhotwukir, Penyair dan Penulis yang berdomisili di lereng Gunung Merapi


andreasap wrote on Apr 27, '07, edited on Apr 27, '07
Saya sih melihatnya masih dalam batas perdebatan soal metodologi dalam telaah teologis yang wajar laiknya di cabang ilmu lainnya. Persoalan jadi muncul lantaran materi yang diperdebatkan menyoal dasar iman yang memang butuh waktu dan kebijaksanaan lebih untuk bisa menerima proses falsifikasi dan dialektika.

Lagi pula, calling the ten-page notification a "disciplinary notice" is misleading, and claiming it stipulates that Sobrino cannot publish theology or teach at a Catholic school is simply false. Unlike the notification regarding the theology of Roger Haight, SJ, Sobrino's contains no sanctions whatsoever. He is not ordered to cease publishing, nor is he told he cannot teach Catholic theology.
rasulullah666 wrote on Oct 18, '07

mengundangmu maen2 ke MP ku....
dan ke forum diskusi iman

http://www.indonesia.faithfreedom.org


- R666
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help