::: GENDHOTWUKIR :::

Blog EntryINTERMEZZO: Menyoal Imam Perempuan di VatikanApr 10, '07 10:52 AM
for everyone

Menyoal Imam Perempuan di Vatikan

Sumber:

http://www.ranesi.nl/tema/suara_perempuan070108/perempuan_vatikan

Gendhotwukir

10-04-2007

Benedict-XVI.jpg
Benedictus: Perempuan sebagai Imam?
Sampai saat ini Tahta Suci Vatikan tetap bersikukuh mempertahankan pandangan dan pendapatnya bahwa gereja Katolik Roma tidak akan pernah mentahbiskan imam dari kalangan perempuan dan mempercayakan tugas-tugas kegembalaan imam kepada seorang perempuan.

Menarik bahwa wacana yang sudah bertahun-tahun lamanya mencuat tetap selalu membeku di Vatikan, teristimewa di hadapan para penjaga dogma gereja yang bertahta di Konggregasi Suci untuk Doktrin dan Iman. Peluang-peluang diskusi sering mentok di hadapan keperkasaan benteng pertahanan Vatikan. Dengan demikian, secara tegas dan tak terbantahkan Vatikan mau mengatakan bahwa pandangan otoritas adalah pandangan otoritas. Titik. Jika tidak setuju dengan otoritas, sah-sah saja. Tapi pada dasarnya kita memang harus berhati-hati jika berpendapat mengkritisi vatikan karena bisa-bisa akan dikucilkan. Meski demikian, hendaklah kita memang harus berani pula berpikir sejenak untuk mempertanyakan kekukuhan pendapat tersebut. Menurut pandangan penulis, pandangan otoritas bisa diperdebatkan sejauh muatan isinya tidak relevan di jamannya. Atau paling kurang, jika pandangan tersebut menguntungkan di satu sisi dan di sisi lain merugikan.

Tulisan sederhana dan singkat ini dimaksudkan untuk merangsang kembali diskusi di seputar keengganan Tahta Suci Vatikan mentahbiskan imam perempuan hingga abad ini. Penulis tertarik melihat posisi Vatikan dan mengkonfrontasikan dengan pendapat-pendapat yang sangat signifikan dengan perubahan dan perkembangan zaman.

Historisitas Wacana Diskusi
Di kalangan para pemikir dan teolog gereja Katolik Roma, diskusi di wilayah ijin dan pengesahan tahbisan imam perempuan mulai muncul sejak tahun 1958, setelah pada bulan September pada tahun tersebut gereja Luteran Swedia mengijinkan perempuan mengambil bagian dalam tugas-tugas pastoral gerejawi. Situasi diperhangat lagi ketika pada tahun 1971 dan 1973 uskup Hong Kong dari gereja Anglikan mentahbiskan tiga imam perempuan dengan persetujuan sinodenya dan pada bulan Juli 1974 gereja Episcopal di Philadelpia mentahbiskan sebelas imam perempuan.

Paus Paulus VI menyatakan sikapnya pada tanggal 18 April 1975. Baginya, meski perempuan tidak memperolah tugas-tugas imamat sebagai imam di dalam gereja Katolik, mereka tetap dipanggil dan diundang untuk turut serta mengikuti Kristus sebagai murid-murid-Nya dan rekan sekerja gereja. Dalih-dalih demikian masih menggema hingga saat ini.

Bulan Juni 1978 sinode gereja Anglikan di Kanada mengadakan pertemuan di Quebec dan menyetujui secara prinsipil bahwa perempuan diijinkan ambil bagian dalam tugas-tugas imamat. Perempuan pantas ditahbiskan menjadi imam. Menanggapi keputusan tersebut, uskup agung dari Canterbury dari gereja Inggris secara blak-blakan memberitahukan pada paus Paulus VI bahwa wacana diskusi tahbisan imam perempuan di gereja Anglikan terus melaju secara signifikan dan bahkan sampai pada praktek pentahbisan. Tetapi, uskup ini menyatakan bahwa gereja Anglikan tidak memiliki dasar prinsipil secara teologis.

Uskup Agung Bernardin, presiden Konferensi Uskup-Uskup Katolik Amerika Serikat secara tegas pada tanggal 7 Oktober 1975 mendeklarasikan pendapatnya bahwa perempuan tidak akan pernah ditahbiskan menjadi imam di gereja Katolik.

Posisi Vatikan
Tahta Suci Vatikan melalui Konggregasi Suci untuk Doktrin dan Iman menyatakan posisi Vatikan bahwa gereja Katolik Roma tidak akan pernah mentahbiskan imam perempuan. Imam hanya dikhususkan untuk kaum laki-laki. Suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa tradisi gereja Katolik tidak mengijinkan dan mengesahkan perempuan ambil bagian dalam tugas-tugas kegembalaan sebagai imam. Keteguhan gereja Katolik Roma berpegang pada tradisi yang telah berabad-abad lamanya dihidupi sepertinya tak akan tergoyahkan, sampai-sampai pendapat demikian tidak membutuhkan intervensi keputusan magisterium.

Dalam terang tradisi maka tampak alasan yang esensial pada tubuh gereja Katolik Roma bahwa hanya laki-laki yang layak menjabat tugas imamat. Yesus memilih keduabelas orang laki-laki untuk menjadi rasul. Yesus tidak memilih seorang pun perempuan untuk tugas tersebut. Tidak mengherankan, tradisi pelimpahan tugas-tugas sakramental hingga kini didominasi oleh kaum adam. Gereja Katolik Roma tidak memiliki dasar teologis untuk menempatkan perempuan dalam tugas kegembalaan sebagai seorang imam. Meski demikian, perempuan memiliki peranan dalam tugas-tugas gerejawi, tetapi tidak sebagai imam. Peluang tugas-tugas gerejawi di luar tugas seorang imam terbuka lebar bagi kaum Hawa.

Keduabelas Rasul itu seperti Yesus. Mereka melanjutkan misi Yesus mewartakan kabar gembira (Mat 3: 14; 6: 12). Misi mereka menjadi model misi secara universal. Dalam pengertian misi semacam ini, mereka representasi Yesus. Itulah sebabnya mengapa para rasul harus laki-laki. Paus Innocent III menyatakan bahwa Yesus tidak pernah menyampaikan dan mempercayakan misinya secara langsung kepada ibunya, tetapi kepada para rasul.

Kontra Vatikan dan Pelanggaran HAM
Wacana ijin pentahbisan imam perempuan perlu diletakkan pada tataran pertimbangan sosiologi, bukan pada perspektif teologi. Gelombang dan semangat pembebasan perempuan dari budaya dominasi laki-laki menuju kesetaraan pada dasarnya memang berpengaruh pada tubuh gereja Katolik Roma, tetapi tidak sampai pada realisasi yang optimal. Semangat reformasi tampak sebagai satu kemustahilan dalam tugas-tugas kegembalaan sebagai imam bagi perempuan. Dari perkembangan pandangan kemsyarakatan, perempuan sudah selayaknya diijinkan mengemban tugas-tugas kegembalaan sebagai imam secara sah melalui tahbisan suci.

Imam adalah imago Dei. Selama berabad abad lamanya konsep imago Dei diletakkan pada pengertian bahwa imam sebagai imago Dei harus laki-laki. Pada perkembangan selanjutnya imago Dei telah dimengerti sebagai representasi aspek maskulin dan feminin. Dasar tahbisan imam perempuan mendapat pertimbangan positif dalam hal ini. Posisi perempuan dalam masyarakat memiliki kesetaraan dengan kaum laki-laki. Perempuan diciptakan sebagaimana laki-laki untuk melakukan segala sesuatu karena perempuan juga memiliki potensi (kemampuan) aktif, demikian padangan seorang pemikir kenamaan Hans Urs von Balthasar.

Keengganan Tahta Suci Vatikan mentahbiskan imam perempuan dan meletakkan perempuan pada posisi kedua dalam tugas-tugas kegembalaan dengan sendirinya telah menunjukkan sikap diskriminatif Vatikan. Dalam hal ini, Vatikan telah melakukan pelanggaran HAM. Otoritas telah menjelma menjadi paham otoriter. Panggilan menjadi imam datang dari Allah sendiri. Panggilan menjadi imam bisa jadi tumbuh di antara kaum perempuan. Mereka layak ditahbiskan dan menjalankan tugas-tugas kegembalaan. Menjadi imam bagi perempuan adalah hak asasi. Menghalangi dan meruntuhkan hak-hak asasi manusia masuk dalam kategori pelanggaran HAM. Dengan demikian, apakah Vatikan secara otomatis bisa dikategorikan pelaku pelanggaran HAM terberat?

* Gendhotwukir, Penyair dan Jurnalis yang kini berdomisili di lereng Gunung Merapi.


mosalaki wrote on Apr 10, '07
Menjadi imam bagi perempuan adalah hak asasi. Menghalangi dan meruntuhkan hak-hak asasi manusia masuk dalam kategori pelanggaran HAM. Dengan demikian, apakah Vatikan secara otomatis bisa dikategorikan pelaku pelanggaran HAM terberat?
ah.. ini pembahasan yang selalu diangkat untuk "menghantam" Gereja Katolik Roma. Membenturkan dogma Gereja dengan HAM, "perkembangan jaman", juga membandingkan dengan dedominasi gereja-gereja yang lain, sperti imam wanita di Gereja Anglikan.
Nanti akan ada issue, "aturan selibatnya para pastor, biarawan dan biarawati Gereja Katolik Roma melanggar HAM seseorang untuk menikah dan beranak pinak"
halah !

wuakakakakakak....
andreset wrote on Apr 10, '07
nggak ada hubungannya antara HAM dgn dogma gereja ... are u catholic? ... baca dulu ALKITAB baru bicara dogma dan HAM.
diskriminasi ? nggak juga MARIA mendapat tempat terhormat di hati umat katolik karena perannya sebagai Ibunda sang Kristus (Tuhan dan Juru selamat).

Salam.
welbrod wrote on Apr 22, '07
jjkk
gendhotwukir wrote on Jun 6, '07
ah.. ini pembahasan yang selalu diangkat untuk "menghantam" Gereja Katolik Roma.
Masak gitu saja seperti hantaman
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help