Sajak Gendhotwukir: Tentang Perempuan yang Bunuh Diri
tubuhnya lebih mencintai bebatuan
tergeletak di jalanan
lesapkan riuh-redam
melayang kambang
sekilat rajutan bintang beralih
yang adalah tubuh rentan
luncurkan beban dari tinggi bangunan
segeriap pengorbanan tanda kepenatan
tubuhnya telah memilih jalan
yogya, 2007
Aku Ingin Menjemputmu
aku ingin menjemputmu
andai bibirmu masih melahirkan kenangan
dan taman lesapkan keramaian
dan kita terbang di halaman
seperti bisumu yang menumbuhkan kerinduan
adalah rajutan tergalang setelah menghilang
sejak dihadang bus yang lalu lalang
tubuhmu menghilang di balik tikungan
selaras senyum dan guguran linangan
aku ingin menjemputmu
andai dirimu cuma satu
seorang diri membatu
di menara pipimu tak ada ragu
di jari-jarimu tumbuh rindu
di victoria park yang telah menjadi ungu
kelelawar pergi berburu
serupa tubuh-tubuh yang lalu-lalang seperti hantu
aku masih menunggu
mencarimu
dan ingin terus menunggu
hongkong-yogya, 2006-2007
La Traviata-La Campanella
1/
Kalut. Perjalanan menjelma dua hati berbeda
Pada ujung belati. Sepi
Keputusan senja
Gagap berlabuh di muara sunyi
Sayat. Tersendat la Traviata
Awal musim dingin. Aroma Verdi nyeri
Tubuh menjari
2/
Gigil pada hulu andante. Rancaki
Sebatang galau membuka hari
Di belahan matahari yang terus mengunci
Saat niat telah membumi
Pada serat-serat denting kali
3/
Sudahlah. Ada bara api di ujung lentera
La Campanella sudah menjelma
Kaki-kaki perkasa
Urat-urat mengudara
Arus nafas tersenga
; Basmi labuan ternoda
4/
Jari-jarinya, geriap menari di ujung tali
Maju. Liar menyergap dan lenyap di jendela adagio
Gempita. Serentak tuai bahagia
Kini berpacak di menara gereja
Dunia tak sesempit kata
Jerman, 2006
* Gendhotwukir, bergiat di Komunitas Merapi. Puisi dan tulisannya tersiar di berbagai media cetak di Indonesia dan di luar negeri seperti Hong Kong, Jerman dan Belanda. Saat ini berdomisili di Yogyakarta.