Tulisan:
Spiritualitas Pohon Natal dan Tradisi Malam Natal di RADIO BELANDA
http://www.ranesi.nl/tema/budaya/spiritualitas_pohon_natal061220
Kolom Budaya tgl: 20-12-2006
Spiritualitas Pohon Natal
Dan Tradisi Malam Natal
Hari
Natal tahun ini tinggal beberapa hari lagi. Hiasan-hiasan natal mulai
menyemarakkan suasana penyambutan peringatan kelahiran bayi Yesus.
Bangunan dan toko-toko telah mulai dipercantik dengan boneka Santa
Klaus, kado-kado natal, kerlap-kerlip lampu, hiasan dan tak terlupakan
pula pohon natal mulai dari ukuran mini hingga raksasa. Pohon-pohon
natal mulai menghiasi jalan-jalan, pusat perbelanjaan, stasiun kereta
dan pusat-pusat kota di berbagai penjuru dunia. Setiap tahun selalu
saja bertengger pohon natal dan riuh hiasannya yang cantik tanpa kita
ketahui benar makna kehadiran pohon natal pada Hari Raya Natal. Bagi
kita yang kristiani kadang terlalu gampang berucap, natal tiba berarti
juga ada pohon natal.
Makna simbolik pohon natal
Pohon natal berkembang dari Eropa. Sebuah pohon dalam
kebudayaan Jerman Kuno mengacu pada makna kehidupan dan kesucian.
Bangsa Jerman Kuno percaya bahwa dalam sebuah pohon tinggal roh-roh
yang baik. Pohon-pohon dihuni oleh roh yang berkarakter baik. Mereka
ini dipanggil oleh manusia melalui sebuah ritual tertentu untuk hadir
membantu dan menjaga kehidupan manusia dari ancaman kejahatan yang
datang dari roh-roh jahat.
Makna kehidupan terungkap dalam keyakinan bahwa pohon-pohon menjadi
tempat tinggal roh-roh yang baik dan roh-roh ini menjaga, melindungi
dan membantu manusia. Makna kesucian terepresentasi dalam sifat dan
perbuatan roh yang tinggal dalam pohon ini yaitu menjadi suri teladan
dan sekaligus selalu mengajak manusia untuk tetap hidup dalam kebaikan
dan menjaga kehidupan. Pohon dengan ranting-rantingnya yang runcing dan
tetap menghijau menandakan bahwa pohon selalu dihuni oleh roh yang baik
dan secara langsung tampak kehadirannya yang selalu menjaga manusia
dari segala bencana, ancaman dan malapetaka. Keyakinan semacam ini
tetap diyakini manusia pada waktu itu meski mereka telah mengenal
ajaran agama kristiani.
Dalam perkembangan selanjutnya hiasan-hiasan pada pohon natal
diartikan sebagai harapan akan kesuburan dan harapan akan kemakmuran
manusia. Di banyak literatur, informasi seputar pengutamaan menghias
pohon natal sebagai pesta besar pada masa natal mulai muncul pada masa
sebelum terjadinya reformasi di tubuh gereja. Pada masa-masa gereja
mengalami pembaharuan (reformasi) dari Martin Lüther, pohon natal
ditafsirkan secara teologis dalam makna paralel dengan pohon di taman
Eden dalam kitab Kejadian. Pohon yang berada di tengah taman Eden
tersebut dinamakan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.
Makna teologis
Bayi penyelamat (Yesus) dan ibunya (Maria) dibandingkan secara
teologis dalam koridor figur yang kontras dengan Adam dan Hawa. Adam
dan Hawa terjatuh dalam dosa setelah Hawa terbujuk oleh ular yaitu
dengan mengikuti rayuan ular dan memakan buah terlarang dari pohon
pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Kejatuhan manusia pertama
ke dalam dosa ini ditebus dengan kelahiran bayi Yesus, Sang Penyelamat.
Dalam relasi dengan pohon natal, peristiwa keselamatan melalui
kelahiran Yesus berarti dosa lama Adam dan Hawa karena telah
mengindahkan larangan Allah dan memakan buah terlarang dari pohon
pengetahuan yang baik dan yang jahat, telah ditebus.
Pohon natal dengan hiasan berupa buah-buah apel dan hiasan manisan
muncul untuk melambangkan dosa manusia pertama Adam dan Hawa dan
keselamatan atas manusia melalui Yesus Kristus.
Pohon yang melambangkan kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa
mulai berkembang dan tersebar pada tahun 1570 berawal dari Elsaß dan
Swiss dan pertama-tama berkembang di kalangan gereja Protestan. Gereja
Katolik sendiri tidak mau memparalelkan makna teologis dari keselamatan
secara ekstrem dengan pohon natal, demikian tersurat dalam beberapa
literatur. Meski demikian, dimungkinkan pula bahwa identifikasi pohon
natal dengan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk tidak
diragukan lagi.
Mulai tahun 1730 gereja Katolik dan Protestan menerima hiasan-hiasan
pada pohon natal berupa hiasan-hiasan lilin. Pohon natal yang penuh
dengan hiasan-hiasan lilin mulai semarak setelah zaman pencerahan yaitu
pada abad XVIII. Hiasan-hiasan buah apel mulai pula diwarnai dengan
warna merah dan warna emas.
Karena orang-orang zaman itu ingin mempertahankan pohon natal
sebagai tanda utama dan ciri khas pada masa natal dan ingin
melanggengkan keberadaan pohon natal hingga pesta kedatangan tiga raja
dari timur yang menjenguk dan menyembah bayi Yesus, umat Kristen
menghiasinya dengan penuh seksama agar pohon natal bisa bertahan lama.
Sejak masa ini pula kado-kado natal mulai memenuhi celah-celah kosong
di bawah pohon natal. Lebih menarik lagi, impian dan keinginan
anak-naka kecil dalam bentuk tulisan dan dihias dengan indah atau
bahkan dimasukkan dalam miniatur khusus mulai digantung di dahan pohon
natal.
Baru pada abad XX pohon natal dan kandang natal digabungkan
kehadirannya pada masa natal di dalam gereja dan kehadirannya menjadi
ciri khas masa natal hingga kini. Mulai abad XX ini pula sudah terlihat
umum orang memiliki pohon dan kandang natal di rumah masing-masing.
Semarak malam natal
Menarik bahwa di Swiss, Perancis, Inggris dan Swedia ada
tradisi unik berupa pemberkatan dan pembakaran gelondong kayu yang
disebut dengan gelondong kayu natal. Dengan abu dari gelondong kayu
natal ini imam memberkati umat, binatang dan ternak piaraan, rumah dan
kota yang bersangkutan. Banyak juga umat yang lantas membawa sepotong
arang atau abu dari gelondongan kayu natal yang telah dibakar ke rumah
masing-masing dan menyimpannya hingga natal tahun berikutnya tiba.
Mereka mempercayai ada rahmat keselamatan yang diperoleh dengan
menyimpannya. Khusus di Inggris, selama gelondong natal terbakar, umat
boleh membuang sisa-sisa makanan ke dalam bara api.
Tradisi pembakaran gelondong kayu natal pada malam natal ini
ternyata berkembang dan menjalar sampai ke Amerika teristimewa di
antara kaum budak berkulit hitam. Mereka berkumpul pada malam natal di
tempat khusus dan membakar gelondong pohon natal. Selama pembakaran
ini, berlaku aturan perdamaian. Para budak ini tidak boleh dihukum pada
malam natal. Mereka bebas dari pekerjaan dan boleh merayakan malam
natal.
Di Balkan tradisi pembakaran gelondong kayu natal ini masih bertahan
hingga kini. Sebelum pesta pembakaran pada malam natal, ada prosesi
khusus. Gelondong kayu khusus dari kayu Eik, sepanjang satu meter dan
baru berumur 3 (tiga) tahun disimpan di sebuah rumah seorang gadis
seperti Yesus yang dikandung dari seorang perawan. Gelondong kayu ini
selanjutnya dibalut dengan kain putih. Gelondong kayu Eik yang kini
menjadi gelondong kayu natal ditandu dan diarak. Setiap orang harus
mengoleskan saleb atau minyak khusus yang wangi. Gelondong kayu natal
tersebut juga dilobangi agar umat bisa menuangkan minyak dan wewangian
lain ke dalamnya. Dalam prosesi menuju pusat pesta, umat mendupainya
dan menaburkan wewangian dan rempah-rempah. Puncak malam natal yaitu
pembakaran gelondong kayu natal diiringi pelambungan doa-doa.
Di India seremoni pohon natal direlasikan dengan doa kristiani.
Pohon natal yang telah dihias ditanam di halaman rumah dan semua
anggota keluarga berkumpul untuk berdoa dengan memegang lilin yang
menyala. Pada pesta keluarga ini, mereka mendengarkan pembacaan dari
kitab suci kisah kelahiran Yesus. Selanjutnya mereka meletakkan lilin
yang masih menyala di ujung dahan-dahan pohon natal. Karena sudah
menjadi tradisi bahwa pada pesta ini mereka juga menyalakan api unggun,
ada tradisi unik pula. Mereka meloncati bara api sambil mengucapkan
atau membatinkan keinginan dan impian mereka.
Kehadiran pohon natal dan malam natal dalam sejarah dan tradisi
ternyata termaknai secara khusus dan bukan sekadar ritual wajib tanpa
pemaknaan khusus. Semoga tulisan ini berguna bagi mereka yang akan
menyambut dan merayakan pesta natal, pesta keselamatan.
Gendhotwukir, Penyair, Jurnalis dan Peneliti literatur kuno yang berdomisili di lereng Gunung Merapi.