::: GENDHOTWUKIR :::

Blog EntryCERPEN: Kidung Duka Seorang BuruhSep 26, '06 6:06 PM
for everyone

Kidung Duka Seorang Buruh

 

Oleh: Gendhotwukir

 

 

Cerpenis tamu dalam Nyanyian Imigran (DF. Publisher, 2006)

 

Pertanda apakah alunan sendu yang terdengar itu? Dari atas jembatan tua ini, aku mendengar melodinya. Sayup-sayup irama lagu requiem menggema dari arah perkampungan Oberkirchen. Gelak-tawa para petani kentang sontak terhenti, serentak berlabuh dalam dermaga irama kesedihan. Menerka-nerka siapakah yang terjemput maut. Lengang jalanan di musim gugur mengabadikan kepedihan yang mendalam, teriring daun-daun yang berguguran.

 

Awan di atas Oberkirchen bagaikan bidadari berjubah hitam yang sedang menangis dan air matanya jatuh di atas bangunan tua yang lalu mendentangkan nyanyi sepi. Oh...Oberkirchen mengapa kau lupakan sorak-sorai kemenangan kita melawan kepongahan Hitler tempo dulu? Janganlah kini Kau diperhamba oleh sesalmu! Mengapa wajah kotamu tidak berseri lagi  menyaksikan hidup yang fana ini? Bukankah setiap kita akan mati? Lihat saja ratusan wajah-wajah keriput yang berpacak di ladang kentang itu! Esok, lusa atau mungkin malam ini, kematian akan menjemput mereka. Jangan tanya mengapa harus ada kematian, tanya saja mengapa ada kehidupan.

 

Namun pertanda apakah ratusan burung gagak hinggap di atap Totenkapelle? Apakah untuk menghibur kesendirian dan kesepian Aisye? Ataukah sedang berbenah diri hendak berperang bersama jiwa Aisye yang kesepian, mengamuk dan ingin membabat habis warga Oberkirchen yang tak peduli dengan kematiannya? Sudah sudah berbulan-bulan, sudah bertahun-tahun lamanya warga Oberkirchen mempersiapkan dan menyambut kematianmu tanpa tangis.

 

Kematian bukanlah akhir segala-galanya, mengapa harus ditangisi? Kematian manusia adalah awal kehidupan baru, menganyam persatuan bersama ‘Sang Ada` ilahi. Mengapa harus ada tangis? Apakah tangis akan memanggil kembali setiap jiwa yang telah meninggalkan badan?  Tangis tak akan menyelesaikan masalah bagi hidup yang sarat duka. Akan tiba waktunya saat harus sadar bahwa raga yang fana ini harus tiada. Saat jiwa harus kembali ke pangkuan “Sang Ada“ yaang mencipta, sujud berbakti dalam ruang dan waktu yang tak terbatas. Saat itulah saat  harus menyadari bahwa kematian tidak perlu ditangisi.

 

Sebagai warga bangsa Timur Jauh, terpampang dalam layar pikiran pertanyaan-pertanyaan ganjil, menggiringku untuk segera memaknai. Akan tetapi pikiran lekas melayang,  mengenang kematian Tante Yanti di Malang Selatan tiga tahun yang lalu. Kematian itu menyakitkan. Genangan air mata tertumpah dari sudut mata para pelayat yang tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam. Paman Karto tak kuasa menghadapi kematian isterinya. Setiap kali menatap wajah pucat jenasah isterinya, tak lama kemudian ia jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri. Jerit tangis menyeruak di ruang tamu yang sempit sehingga setiap pelayat yang baru tiba akan segera menghirup aroma kesedihan dan tak lama kemudian terbawa dalam alam kesedihan, menangislah mereka sejadi-jadinya. Kematian itu menghadirkan tangis. Kematian dan tangis adalah sahabat abadi. Kematian tanpa tangis adalah kehidupan tanpa kata-kata, kebahagiaan tanpa tawa ria. Kelahiran disambut dengan pesta-pora yang meriah. Kematian dihantar dengan pesta duka jerit-tangis, mungkin sambil mengutuk `Sang Ada‘ Yang Mahakuasa karena tidak adil. Dimana gudang tangis tersembunyi, di situ rajutan jiwa yang terluka. Tangis adalah bahasa duka yang tercipta kala duka melanda, sekaligus bahasa cinta kala ada duka memisahkan seseorang dengan  yang dicinta.

 

Paman Karto kehilangan orang yang sangat dicintainnya sekaligus belahan jiwanya. Ia tak kuasa menyambut dewi kematian yang menjemput kekasihnya tanpa tangis dan air mata. Ia merasakan terapung di lautan kesendirian dalam mengarungi kehidupan ini. Tapi, bukankah kematian Aisye juga meninggalkan Erkart tercinta di kampung Oberkirchen? Tidak adakah air mata yang tersisa untuk mengiring kepergian Aisye? Erkart, mengapa Kau hanya termenung saja menatap kematian Aisye? Engkau masih muda, air matamu masih menggenang di danau matamu. Mana tangismu? Kutunggu tangismu kini. Jane...tidak adakah benang cinta antara Kau dan Aisye yang terjalin selama ini?

 

Dada ini semakin sesak. Penantian yang sia-sia. Pengharapan yang tak berujung pada pemenuhan harapan, seperti memandang fatamorgana. Aku segera berlari ke Totenkapelle. Aku hendak menghibur jiwa Aisye yang kesepian. Menghadiahkan kepadanya tangis duka yang mendalam atas akhir hidupnya di dunia ini. Pertemuan yang teramat singkat, Aisye, namun menyisakan makna abadi bahwa Kau tidaklah seperti warga Oberkirchen yang lain. Terbayang selalu kala Kau ditinggal ibunda tercinta, Kau meratapinya dengan lengkingan tangis dan air mata. Kau berlari berkilo-kilo meter melewati pepohonan yang meranggas di akhir musim gugur, menerjang serangan angin dingin awal musim winter tanpa mantel. Berlari keliling kampung dalam derai air mata. Namun tak seorang pun peduli. Malahan, mereka menganggapmu cengeng. Salah didik. Mereka merasa gagal mendidikmu. Selalu terucap dari mereka, mengapa kematianmu harus ditangisi dan disesali? Bukankah setiap kita akan mengalaminya?

 

Aku tahu Aisye. Kini Kau merindukan tangis untuk kepergianmu. Janganlah merasa terasing dan terkucil di perjalananmu, Aisye. Lihatlah tangis langit menyemarakkan pesta duka atas kematianmu. Jerit pepohonan yang meranggas menyatu dengan kidung dukaku. Kini, Kau kuiring dengan pesta duka, jerit-tangis meraja. Kematianmu kini adalah perjalanan hidup baru yang menyisakan kenangan dalam diriku. Tangisku melebihi tangis seorang sahabat sejati dalam bentangan waktu yang tak terhingga karena kenangan kita. Tapi, biarkanlah semua mengalir Aisye, mereka gamang untuk mengerti kepedihan kenangan kita. Namun, mereka akan segera tahu bahwa aku mencintaimu dan sangat kehilangan dirimu.

 

Kini, dalam kapel tua ini Kau terbaring, Aisye.  Sudah tiga hari lamanya Kau menyepi. Tak seorang pun yang menemani. Membiarkanmu seorang diri dalam kepekatan malam abadi. Di siang hari tak ada lubang cahaya dan di malam hari tak ada cahaya terjelma. Cahaya matahari tak sanggup menembus kegelapan hati mereka dan rembulan enggan singgah di Oberkirchen. Kata mereka cukup dipersembahkan kepadamu ayat, “Ich bin der Weg und die Wahrheit und das Leben; niemand kommt zum Vater außer durch mich“,  yang memang sudah terpampang di dinding Totenkapelle sejak dulu kala.

 

Saatnya kini hampir tiba, setelah berjam-jam lamanya aku menunggu kemauan warga Oberkirchen, mengembalikanmu kepada tanah. Tak lama lagi Kau akan berperang tanpaku melawan keganasan mahkluk-mahkluk tanah. Kau akan segera lenyap ditelan bumi, namun percayalah bumi tak akan mampu menghapus untaian kenangan kita.

 

“Erkart,  segeralah menangis untuk Aisye tercinta“.

 

“Mengapa aku harus menangis? “ jawab Erkart sambil meletakkan setangkai

bunga mawar di samping peti.

 

Ia lalu mengambil posisi berdiri di samping Jane, kakak Aisye, menjauh dariku dan menghindari sejauh mungkin setiap tatapan mataku yang mencecarnya, meski aku tahu bahwa setiap kali pula ia berusaha mencuri pandang padaku, ketika aku lengah. Mungkin akan ada tangis kepedihannya di samping Jane, itulah yang aku nantikan. Dua sosok mematung dengan tatapan kosong. Sosok-sosok yang tak ubahnya patung batu, menelantarkan siang dalam gulita malam. Wahai tangis, datanglah segera. Dimanakah kau terpenjara, biarkan aku membebaskanmu. Mengucurlah segera dari kelopak mereka. Mengapa duka ini tak mampu mengundangmu? Ah...Terlalu naif,  butir harapan kulambungkan kepada penguasa langit mendung.

 

**

 

Oh...lihatlah, warga kampung Oberkirchen mulai berdatangan. Setelah sujud memberi penghormatan terakhir di depan peti mayatmu tanpa percikan air dan taburan kembang,  ratusan pelayat bermantel hitam dengan tertib berjajar di pinggir jalan yang akan dilalui rombongan pengangkut jenasah dengan Totenbahre tanpa karangan bunga dan lagu sendu. Tak ada pancaran kesedihan dari raut wajah mereka. Kepedihan hanya singgah pada mantel, kerudung dan jas yang berwarna hitam, karena itu sudah cukup bagi mereka untuk kepergian seorang Aisye. Wajah-wajah yang angkuh, seangkuh pinus dan cemara yang tetap tegar di musim gugur. Tegar membisu dan dengan tatapan mata yang tajam mengamati  setiap langkah para pengangkut peti mayat, tanpa menghiraukan nyanyian dukaku.

 

Tapi Aisye, tetap tataplah pada kepedihan pepohonan yang meranggas itu dan gagak-gagak hitam yang bertengger di atap Totenkapelle itu. Rasakanlah dinginnya angin awal musim dingin. Angin yang menghantarmu pada tangis pilumu dulu. Rasakanlah  kehadiran tangismu yang Kau peruntukkan buat Ibundamu tercinta dulu, yang nyatanya masih tersisa buatmu dan kini dibawa oleh angin kepadamu. Maafkan aku, meski Kau telah mendekati liang kubur, jangan tanya mengapa belum terdengar tangis duka dari mereka. Terlampau dini melambungkan syair pengharapan dalam kepongahan hati manusia. 

 

Oooh, Aisye… Jangan katakan Kau takut menghadapi bala tentara bumi. Ini kubawakan pedang yang tajam untukmu, berupa bulir-bulir ingatan kemenanganmu mengarungi dunia. Maafkan aku Aisye, lengkingan tangisku sampai detik ini tak mampu menggoyahkan keangkuhan warga Oberkirchen. Mereka semakin tegar dan bernafas lega menjelang peti matimu masuk ke liang kubur. Sepertinya mereka hendak berteriak, pergilah segera Kau ke liang kubur menjadi santapan cacing dan hewan pemakan bangkai.

 

Akan kemanakah jasa-jasamu bersembunyi selain dalam puri batinku? Adakah sekotak peti untuk jasa baikmu di Oberkirchen? Di kedalaman relung hati Erkart? Jane... bertahun-tahun lamanya Kau hidup bersama, mengapa tak Kau persiapkan gudang kenangan yang terukir indah bagi adikmu.  Apa arti kebersamaanmu selama ini?

 

Inilah detik-detik terakhirmu diselimuti langit dalam dunia manusia, Aisye. Ingin rasanya kumaki wajah-wajah angkuh yang mengelilingiku, karena tak seorang pun sampai saat terakhir menghadiahkan kepadamu setetes air mata untuk melumat dahagamu dalam perjalanan kesendirianmu ini. Tak ada kesedihan dan kenangan yang mengendon dalam nurani mereka yang akan menjadi peluru-peluru tajam di medan barumu. Aku tahu Kau butuh peluru-peluru kemenangan dalam kenangan mereka, yang akan menemanimu berjuang dan sekaligus meyakinkanmu bahwa Kau adalah seorang pimpinan perang yang membawa beribu-ribu laskar pilihan.

 

Aisye, kini kau telah ditelan bumi. Yang ada tinggal rajutan kenangan yang akan selalu kugendong kemanapun angin meniupku. Senyatanya, memang tiada gelombang tangis tersaji mengiring kepergianmu. Tiada cucuran air mata untuk jasa-jasamu, kecuali dari kelopak dan geram dadaku.

 

***

 

Tiga tahun telah berlalu. Angin membawaku kembali ke Oberkirchen pada akhir musim dingin, bukan untuk menggauli kenangan bersama Aisye juga perpisahan waktu itu, melainkan karna ada nyanyian dan tarian duka yang menyeretku kembali. Nyanyian dan tarian duka  yang berasal dari kuburan, tepat berpacak di atas nisan Aisye.

 

“Erkart, mengapa Engkau menangis?“

 

“Aisye... Aisye... datang kepadaku“.

 

“Apa?“ tanyaku penuh keheranan, “Aisye telah tiada, Erkart“.

 

“Ya... tapi... mengapa? Mengapa aku tak mampu membunuh kenanganku bersamanya?“ tanya Erkart seraya menyeka linangan air matanya.

 

Oh...Oberkirchen, Aisye memang telah pergi bersama angin awal musim dingin tiga tahun lalu. Di penghujung musim dingin ini janganlah bertanya mengapa ia kembali. Ia mendamba tangis dukamu, karena kenanganmu bersamanya di medan perang tak terhapus olehmu. Ia kembali karena dirimu yang mengenang.

 

“Sia-sialah Kau berusaha membunuh kenangan, Erkart, karena tak seorang pun kuasa menghapuskannya“.

 

“Dan untuk kenangankah Engkau kembali ?“

 

“Tidak! Tidak Erkart! Tapi Kidungmu“

 

“Bukan itu. Aku tahu. Atas nama cinta. Apakah Engkau akan bertanya lagi mengapa tidak ada tangis kami untuk kematian Aisye waktu itu, hei Kamu pencuri perawan bertunangan? Ketahuilah bahwa sesungguhnya waktu itu kami tidak menghendaki gadis kampung kami menikah dengan buruh asing sepertimu!”

 

Tiba-tiba saja ada gemuruh badai menggebu di sekujur tubuhku. Suasana hening mencekam. Hitam pekat menggeliat. Hanya sesekali terdengar desiran angin yang membelai ranting-ranting kering. Jelas tarikan dan hembusan nafas Erkart, sementara aku diam membisu. Aku hanya seorang buruh dari keluarga buruh dan negeri buruh. Sudah seperti itukah dunia memandang kemanusianku?

 

 

Sankt Augustin – Jerman, 2006

 

 

1. Oberkirchen adalah sebuah kampung indah yang memiliki jembatan tinggi nan elok dan terletak di daerah St. Wendel, Saarland, Jerman. Kampung kecil yang indah, namun  tampak keriput pada musim gugur, seperti halnya kampung lain di Eropa ketika musim gugur tiba.

 

2. Die Totenkapelle adalah kapel (gereja kecil) untuk orang mati. Gereja kecil ini biasanya dibangun di lokasi kuburan (tempat pemakaman). Di tempat ini biasanya mayat disemayamkan  minimal selama 3 (tiga) hari sebelum dikebumikan, tanpa seorang pun yang menunggui. Di semayamkan selama 3 (tiga) hari di tempat ini karena biasanya menunggu keputusan keluarga, kapan mayat akan dikebumikan sekaligus karena adanya alasan medis yaitu untuk membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar telah meninggal.

 

3. “Ich bin der Weg und die Wahrheit und das Leben; niemand kommt zum Vater außer durch mich“ (Akulah jalan dan kebenaran dan hidup.Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku).

 

4. Die Totenbahre adalah tandu jenasah atau keranda. 

 

5. “Karna tak seorang pun kuasa menghapuskannya“, gagasan ini diadopsi dari syair Sastrawan Besar Si Burung Merak, W.S. Rendra, dalam sajaknya yang berjudul “Sajak Seorang Tua Untuk Isterinya“. Adapun syair aslinya berbunyi, “Tolehlah lagi ke belakang, ke masa silam yang tak seorang pun kuasa menghapuskannya...“. (Yang ada pada penulis rekaman pertunjukkannya dalam bentuk kaset).

 

 


nilora wrote on Sep 26, '06
* Kidung duka seorang buruh - apakah ini juga "kidung duka seorang aku" yg belum mendapakan "Nyanyian Imigran"? Tunggu kau, Gramedia! aku akan merampokmu. he he :)
gendhotwukir wrote on Sep 27, '06, edited on Sep 27, '06
nilora said
apakah ini juga "kidung duka seorang aku" yg belum mendapakan "Nyanyian Imigran"? Tunggu kau, Gramedia! aku akan merampokmu. he he :)
he he he tunggu aja edisi bahasa inggrisnya krn diterbitkan dalam 2 bahasa: indonesia dan Inggris. Ini buku tidak bisa dibeli di toko-toko besar. Jadi via email atau sms - hub: mega_vristian@yahoo.com.hk. "Meski demikian, sudah akan naik cetak lagi alias laris," tegas Si Pengundang dan Penggagas buku ini .
yaniar wrote on Sep 27, '06
Selamat atas buku barunya :)
gendhotwukir wrote on Sep 27, '06, edited on Sep 27, '06
yaniar said
Selamat atas buku barunya :)
Maaf saya hanya cerpenis tamu dlm buku itu (diminta). Saya sendiri jarang tulis cerpen. Itu coba-coba. Jadi bukan bukuku itu he he he.
gingertea wrote on Aug 25
Dalam sepotong kecil perjalanan kehidupan pribadi saya, saya pernah terinspirasi oleh sebagian kalimat dari cerita ini, dan saya sempat mengutipnya dalam blog pribadi saya -- tdk di publish utk umum -- (dng mencantumkan sumber tentunya). Terimakasih sesudahnya. Hanya saja saya tdk menyangka bisa berjumpa dng blog penulis aslinya.
gendhotwukir wrote on Aug 26
Salam kenal.Semoga bermanfaat

Gendhotwukir
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help