Kaum Gay Dunia Tuntut Hak Politik dan Sipil
Cologne, CyberNews. Ratusan ribu pengunjung dari berbagai kota di Jerman dan mancanegara memadati kota Cologne di Jerman. Hari Minggu (16/7) adalah Christopher Street Day (CSD), sebuah pesta sekaligus hari demonstrasi kelompok gay, lesbi, biseks dan transeksual di Eropa.
Tahun ini pesta dan demonstrasi dikemas secara menarik dalam bentuk pawai dan orasi politik. Bisa dimengerti, ratusan ribu pengunjung dari berbagai kota dan bahkan mancanegara datang ke kota Cologne untuk sekadar menikmati suguhan pawai atau secara langsung memberikan dukungan kepada kelompok minoritas ini.
Pawai CSD sendiri sebenarnya diadakan untuk memperingati bentrokan antara polisi dan kelompok gay dan lesbi di New York – Amerika Serikat yaitu di Christopher Street pada tanggal 27 Juni 1969.
Hari itu menjadi simbol perlawanan terhadap diskriminasi kelompok minoritas ini. Sejak tahun 1970, setiap hari Sabtu terakhir di bulan Juni, kota New York memperingatinya sebagai Christopherstreet Liberation Day. Di Jerman, CSD pertama kali diadakan pada tahun 1979 di Bremen dan Berlin.
Pawai yang diikuti lebih dari 80 perwakilan ini berlangsung sejak pukul 12.00-16.00 waktu Jerman dengan menyertakan perwakilan dari partai FDP hingga kelompok gay dari Turki. Iring-iringan pawai mobil dan para pejalan kaki yang berkostum sangat mencolok dari kesan sopan hingga norak, dari kesan berbudaya hingga telanjang tanpa busana berlangsung mulai dari Deutszer Bruecke hingga Marzalenstrasse. Di sepanjang rute tersebut ratusan ribu pengunjung menyaksikan pawai kelompok ini.
Usai pawai para pengunjung merengsek memadati lapangan luas di Heumarkt dan Rathaus Cologne untuk mendengarkan orasi politik sekaligus tuntutan-tuntutan kelompok ini. Sementara itu pada saat yang bersamaan di Altstadt berlangsung pesta jalanan berupa stan-stan souvenir, makanan hingga kondom.
Dalam orasi politiknya, Benedikta asal kota Muenchen menekankan pentingnya penegakan kesamaan hak bagi kaum gay, lesbi, biseks dan transeksual. Ia mencontohkan Spanyol yang telah lebih maju dalam hal pengakuan perkawinan sesama jenis. Dalam orasi yang disampaikan oleh banyak perwakilan kelompok gay, lesbi, biseks dan transeksual, mereka secara jelas menuntut hak-hak politik dan hak sipil.
“Hak politik artinya pengakuan suara mereka di parlemen sebagai perwakilan khusus dan pengakuan resmi dari pemerintah soal perkawinan sesama jenis. Kelompok ini menuntut pengakuan bahwa pengertian orang tua tidak boleh melulu dalam pengertian dari dua orang yang jenis kelaminnya berbeda laki-perempuan, tetapi juga harus dari dua orang yang jenis kelaminnya sama, entah antar dua laki-laki atau dua perempuan,” ungkap romo PC Siswantoko Pr dari Keuskupan Purwokerto, lulusan Program Pascasarjana Academia Alfonsiana, Pontificia Universitas Lateranensis, Roma kepada koresponden SM CyberNews di Jerman disela-sela mendengarkan orasi politik mereka.
Lebih lanjut romo yang sehari-harinya akrab dipanggil romo Koko dan baru saja menyelesaikan studinya di bidang moral teologi serta singgah di Jerman ini mengatakan bahwa hak sipil yang mereka tuntut yaitu tuntutan agar mereka boleh mengadopsi anak, mendidik layaknya suami istri dan mendapat pengakuan resmi atas status mereka sebagai orang tua di lembaga-lembaga formal seperti pengakuan untuk pembuatan KTP dan pendaftaran anak adopsi mereka di sekolah.
Tuntutan pengakuan perkawinan sesama jenis juga mereka lontarkan ke gereja katolik. Meski demikian, pihak vatikan tetap bersikukuh dengan berdalih bahwa perkawinan yang resmi dan direstui secara agama tetap dalam pengertian antar seorang laki-laki dan perempuan, bukan antarsesama jenis. ( Gendhotwukir/Cn08 )
Apa komentar Anda? Alasannya?
Foto: Gendhotwukir